Tampilkan postingan dengan label Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

PYPD - 32. PARA NABI ADALAH MANUSIA YANG MEMILIKI SIFAT KEISTIMEWAAN *)



Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki



Sebagian orang beranggapan bahwa para Nabi, dalam setiap keadaannya, adalah sama derajatnya dengan semua manusia pada umumnya. Anggapan tersebut sekaligus mencerminkan kebodohan dan kesalahan mereka. Meskipun para Nabi, bila dipandang dari segi hakekat asal usul kemanusiaannya, adalah sama dengan manusia pada umumnya, akan tetapi mereka memiliki banyak perbedaan dalam hal sifat dan kepribadiannya. Jika tidak demikian, lalu apa keistimewaan mereka? Bagaimana mungkin mereka berhasil dipilih Allah swt sebagai utusan-Nya?

Berikut ini kami akan menjelaskan sebagian sifat-sifat mereka di dunia dan kekhususan mereka di alam barzah, sebagaimana yang telah disinggung oleh beberapa nash Al-Qur’an dan Hadis Nabi.


PARA NABI ADALAH PEMIMPIN MANUSIA

Para Nabi adalah  sosok manusia suci yang dipilih Allah swt dari sekalian hamba-Nya. Allah swt memuliakan mereka dengan Nubuwwah ( membawa missi kenabian), Hikmah (kebijaksanaan), diberi kekuatan pikiran dan ketepatan pandangan. Allah swt memilih mereka sebagai Perantara antara Dia dan makhluk-Nya. Mereka diberi tugas menyampaikan perintah-perintah Allah swt, kabar gembira dan peringatan kepada manusia. Mereka memberi tuntunan hidup dan petunjuk hidup kepada umat manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Hikmah Allah swt memilih mereka dari jenis manusia adalah agar manusia dapat berkumpul bersama-sama dengan mereka, mengambil pelajaran, mengikuti jejak perjalanan hidup dan akhlak mereka. Dengan kata lain, kemanusiaan para Nabi merupakan suatu kemukjizatan bagi mereka, dalam pengertian bahwa mereka berasal dari jenis manusia yang diberi keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun di antara manusia pada umumnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa menganggap para Nabi adalah sama seperti manusia pada umumnya yang tak memiliki perbedaan dan keistimewaan tertentu, merupakan anggapan Kaum Jahiliyah yang musyrik. Sebagaimana pandangan yang dikemukakan oleh kaum Nabi Nuh kepada dirinya :

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ(27)

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS Hud,[11] : 27)

Pandangan Bani Israil kepada pribadi Nabi Musa dan Nabi Isa :

فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ(47)
Dan mereka berkata: "Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?" (QS Al-Mukiminun,[23] : 47)

Demikian pula pandangan kaum Tsamud kepada Nabi Shaleh (QS Asy-Syu’ara’’[26] : 154); pandangan penduduk Aikah kepada Nabi Syu’aib as (QS Asy-Syu’ara’,[26] : 186); dan kaum musyrikin Arab kepada Nabi Muhammad saw :

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا(7)
Dan mereka berkata: "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?,” (QS Al-FurqaN: 7)



SIFAT PARA NABI DAN KEKHUSUSAN NABI MUHAMMAD SAW.

Meskipun para Nabi dipilih dari jenis manusia dan melakukan aktifitas sebagaimana layaknya manusia pada umumnya seperti makan, minum, sehat, sakit, menikahi wanita, berjalan di pasar-pasar dan memiliki ciri-ciri khas kemanusiaan seperti tua, lemah dan mati, akan tetapi mereka juga memiliki beberapa sifat khas dan istimewa melebih manusia pada umumnya. Di antaranya :
1.   Shiddiq (benar, jujur, tak pernah berbohong)
2.   Amanah (dapat dipercaya, tak pernah berkhianat)
3.   Tabligh (menyampaikan wahyu)
4.   Fathanah (cerdas, pandai, cendekia)
5.   Terhindar dari cacat dan ‘aib yang menyebabkannya dijauhi umatnya
6.   ‘Ishmah (terpelihara dari salah dan dosa)


Berikutnya kami akan menjelaskan beberapa sifat-sifat khas dan istimewa yang ada pada diri Rasulullah saw yang membedakannya dengan manusia pada umumnya:

a.   Kemampuan melihat dari arah belakang sebagaimana yang dilakukannya dari arah depan. Imam Bukhary dan Muslim mengetengahkan hadis dari Abu Hurairah ra. Dia menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Apakah kalian melihat kiblatku (arahku menghadap) di sini? Demi Allah! Rukukmu dan sujudmu tidak lepas dari penglihatanku. Aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku”.
Imam Muslim mengetengahkan hadis dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku adalah imammu. Karena itu kamu jangan mendahului rukukku dan sujudku. Aku dapat melihat kamu dari arah depanku dan belakangku”.
Imam Abdurrazzaq, Al-Hakim dan Abu Na’im mengetengahkan hadis dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya aku benar-benar dapat melihat apa saja yang ada di belakangku, sebagaimana aku dapat melihat apa saja yang ada di depanku”.

b.   Melihat sesuatu yang tak mampu kita lihat dan mendengar sesuatu yang tak mampu kita dengar. Hadis dari Abu Dzar al-Ghiffary menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sungguh aku melihat sesuatu yang tidak mampu Anda lihat dan mendengar sesuatu yang tidak mampu Anda dengar. Langit sudah pernah aku jelajahi dan ia memang berhak dilintasi. Demi Allah yang jiwaku berada didalam kekuasaan-Nya! Tiada tempat selebar empat jari melainkan ada malaikat yang meletakkan keningnya untuk bersujud kepada Allah swt. Demi Allah! Sekiranya Anda mengetahui apa yang sedang aku ketahui saat ini, tentu Anda akan sedikit tertawa dan banyak menangis, serta tidak akan merasakan kelezatan kaum wanita di tempat tidur Anda. Anda tentu akan pergi ke bukit-bukit yang tinggi (beruzlah mengasingkan diri) untuk mendekatkan diri kepada Allah swt”. Abu Dzar setelah mendengar sabda beliau saw tadi berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku menjadi sebatang pohon yang besar dan menjulang tinggi”. (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah).

c.   Ketiak Rasulullah saw. Imam Bukhary dan Muslim mengetengahkan hadis dari Anas bin Malik ra, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya ke atas pada saat berdoa, sampai kedua ketiaknya terlihat”.
Ibnu Sa’ad mengetengahkan hadis dari Jabir ra, bahwa ia pernah mengatakan: “Rasulullah saw sewaktu sujud terlihat  kedua ketiaknya yang berwarna keputih-putihan”.
Al-Muhibb at-Thabary  mengatakan: “Di antara kekhususan Rasulullah saw adalah bahwa ketiak semua manusia pada umumnya berbeda-beda warnanya, kecuali ketiak beliau saw yang berwarna keputih-putihan”. Al-Qurthuby juga menuturkan demikian. Dan perlu ditambahkan, bahwa ketiak Rasulullah saw tidak berbulu.

d.   Tidak pernah menguap.  Imam Bukhary didalam buku Tarikh-nya dan Ibnu Syaibah dalam Mushnaf-nya, serta Ibnu Sa’ad mengetengahkan hadis dari Yazid bin Al-Ashamm. Ia bercerita bahwa Rasulullah saw tidak pernah menguap sama sekali.
Ibnu Syaibah mentakhrij hadis dari Maslamah bin Abdulmalik bin Marwan, katanya: “Rasulullah saw tidak pernah menguap sama sekali”.

e.   Keringat Rasulullah saw. Imam Muslim mengetengahkan hadis dari Anas bin Malik ra, bahwa dia menuturkan : “Rasulullah saw datang berkunjung ke rumah kami. Beliau tidur siang dan berkeringat. Ibuku, Ummu Sulaim, datang dengan membawa sebuah wadah semacam botol untuk menadahi tetesan keringat beliau. Kemudian beliau terbangun dan bersabda: “Hai Ummu Sulaim! Apa yang sedang Anda lakukan!”. “Keringat Engkau ini akan aku jadikan sebagai minyak wangi yang sangat harum baunya”, jawab ibuku”.

f.   Tinggi badan Rasulullah saw. Ibnu Khaitsamah didalam buku Tarikh-nya, Al-Baihaqy dan Ibnu ‘Asakir mengetengahkan hadis dari Aisyah ra, bahwa dia menuturkan : “Rasulullah saw tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek. Beliau nampak berperawakan sedang jika berjalan sendirian. Jika berjalan bersama dua orang yang terbilang tinggi, beliau saw nampak lebih tinggi darinya. Namun jika keduanya berpisah, perawakan beliau saw sedang”.
Ibnu Saba’ menjelaskan kekhususan-kehususan beliau saw tersebut dengan tambahan, bahwa bila beliau saw sedang duduk di tengah-tengah majlis, pundak beliau nampak lebih tinggi dari semua orang yang hadir.

g.   Bayangan tubuh Rasulullah saw. Al-Hakim dan At-Tirmidzy mentakhrij hadis dari Dzakran, bahwa Rasulullah saw tidak meninggalkan bekas bayangan tubuhnya sewaktu beliau terkena sinar matahari dan bulan.
Ibnu Saba’ menuturkan bahwa di antara kekhususan beliau saw adalah bayangan tubuhnya tidak jatuh ke atas tanah, karena beliau adalah “Nur” itu sendiri. Jika berjalan di bawah terik matahari dan sinar rembulan, tidak terlihat bayangan tubuh beliau di atas tanah. Sebagian ulama mengatakan, bahwa hal ini disebabkan beliau senantiasa berdoa : أللـهمّ اجـعـلـني نوراً  , (“Ya Allah! Jadikanlah diriku cahaya”).
Al-Qadhy ‘Iyadh dalam kitab Asy-Syifa’ dan Al-‘Ashafy didalam kitab Maulid-nya menuturkan, bahwa di antara kekhususan beliau saw adalah bahwa lalat tak pernah singgah di tubuhnya. Perlu ditambahkan bahwa kutu-kutu pun tidak berani menyakiti dan menyengat tubuh beliau saw.

h.   Darah Rasulullah saw. Al-Bazar, At-Thabrany, Al-Hakim dan Al-Baihaqy mengetengahkan hadis dari Abdullah bin Zubair ra, bahwa ia mendatangi Rasulullah saw yang sedang berbekam/bercantuk (mengeluarkan darah kotor). Beliau saw bersabda: “Hai Abdullah ! Pergi dan buanglah darah ini ke tempat yang sepi, sekiranya di situ tidak ada seorang pun yang melihatmu”. Setelah darah itu ia bawa ke luar, ia tidak segera membuang darah itu, tetapi malah ia minum. Kemudian ia kembali ke hadapan beliau saw. Beliau saw bersabda: “Hai Abdullah! Apa yang Anda lakukan?”. Darah itu sudah aku bawa ke tempat yang sepi dan tidak ada seorang pun yang melihatku”, jawab Abdullah. Beliau saw bilang: “Pasti Anda minum!”. “Benar, aku meminumnya, Ya Rasulullah saw!”, jawabnya. Kemudian Rasulullah saw bersabda : “Celakalah orang-orang disebabkan perbuatan Anda tadi, dan celakalah Anda  dari perbuatan mereka itu, oleh karena mereka memandang bahwa dengan meminum darahku itu mereka menjadi kuat”.

i.   Tidurnya Rasulullah saw. Imam Bukhary dan Muslim mengetengahkan hadis dari ‘Aisyah ra, katanya: “Ya Rasulullah! Apakah engkau tidur sebelum shalat witir?”Hai ‘Aisyah! Kedua mataku memang tidur, tetapi mata hatiku tiak pernah tidur”, jawab beliau saw. 

j.   Hubungan sebadan Rasulullah saw. Imam Bukhary menuturkan hadis dari jalan Qatadah ra, dari Anas bin Malik ra, ia berkata : “Beliau saw pernah menggilir para isterinya yang berjumlah sebelas orang itu dalam satu waktu sehari semalam” Qatadah ra bertanya: “Seberapa besar keperkasaannya?”. Anas bin Malik ra  menjawab Sebesar keperkasaan tiga puluh orang”.

k.   Rasulullah saw tidak pernah ihtilam. At-Thabrany mengetengahkan hadis dari jalur  Ikrimah ra, dari Anas bin Malik ra dan Ibnu Abbas ra. Sementara Ad-Dainury dalam kitabnya, Al-Mujalasah, mengetengahkannya dari jalan Mujahid, dari Ibnu Abbas ra, bahwa ia bercerita : “Rasulullah saw sama sekali tidak pernah Ihtilam (keluar air sperma akibat bermimpi). Karena Ihtilam adalah akibat gangguan syetan”.  
 
l.    Air kencing Rasulullah saw. Al-Hasan  bin Sufyan dalam kitabnya, Al-Musnad, serta Al-Hakim, Abu Ya’la, Ad-Daruquthny dan Abu Na’im mengetengahkan hadis dari Ummu Aiman ra, ia berkata : “Rasulullah saw bangun dari tidurnya di tengah malam, lalu menuju ke tempat tembikar di sudut rumah, lalu membuang air seninya didalamnya. Tak lama kemudian aku pun bangun dari tidurku dalam keadaan sangat haus, terus aku mencari air minum, maka aku minum saja air yang ada di tembikar tersebut. Setelah datang waktu pagi, aku bercerita kepada beliau saw tentang apa yang aku lakukan semalam. Beliau saw langsung tertawa sambil bersabda, “Sungguh, perutmu setelah hari ini selamanya tidak akan pernah sakit”.

Abdurrazzaq menuturkan sebuah riwayat dari Ibnu Juraij, ia mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah kencing didalam sebuah gelas dari logam, lalu beliau letakkan gelas itu di bawah kolong tempat tidurnya, terus keluar rumah. Setelah masuk kembali untuk mengambil gelas, tiba-tiba gelas itu sudah tidak ada di tempat semula. Beliau saw kemudian bertanya kepada  seorang wanita pelawan Ummu Habibah, yang lebih dikenal dengan nama “Barkah”, pelayan Ummu Habibah, yang baru saja datang bersamanya dari negeri Habasyah : “Di mana gelas yang berisi air seniku yang aku letakkan di bawah kolong tempat tidurku ini?”. Barkah menyahut: “Sudah aku minum, tadi!”. Kemudian beliau saw bersabda: “Kamu akan sehat, wahai Ummu Yunus!”. Ummu Yunus adalah nama panggilan dari Barkah. Kenyataannya, Barkah tidak pernah sakit sampai akhir hayatnya.

Di antara para ulama ada yang menyusun Nazhaman yang berisi sejumlah kekhususan sifat Rasulullah saw yang membedakannya dengan sifat manusia pada umumnya :

Nabi kita Muhammad SAW memiliki sepuluh sifat khas
1.   Beliau tidak pernah mengalami Ihtilam sama sekali dan tidak berbayang
2.   Bumi menelan apa yang keluar darinya
3.   Lalat pun enggan mendekati beliau
4.   Kedua matanya tidur, namun mata hatinya tidak
5.   Mampu melihat yang di belakang seperti yang di muka
6.   Beliau tak pernah menguap
7.   Sejak lahir sudah berkhitan
8.  Hewan-hewan yang ditunggangi sama mengenalnya, Tidak lari, malah semakin mendekat
9.   Sewaktu duduk, pundaknya nampak lebih tinggi dari yang lain
10. Allah bershalawat kepadanya di waktu pagi dan petang.

Kekhasan sifat Rasulullah saw sebenarnya sangat banyak dan tidak terbatas pada sepuluh sifat seperti di atas. Hadis-hadis yang meriwayatkan tentang sifat-sifat khas beliau saw ada yang bernilai shahih sanadnya, ada yang tidak shahih, dan ada yang masih diperselisihkan, sehingga menjadi persoalan khilafiyah di kalangan ulama.

Kajian para ulama di jaman dahulu tentang kekhasan sifat beliau saw adalah sekitar persoalan benar dan salahnya, sah dan batalnya, bukan pada persoalan kufur dan tidaknya. Kekhasan sifat beliau saw yang kami kutip di atas juga ada yang berdasarkan riwayat yang sanadnya shahih dan ada yang tidak shahih, ada yang pantas diterima dan ada yang tidak. Apa yang kami uraikan di atas adalah agar dijadikan sebagai dalil tentang betapa tolerannya para Muhadditsin (ulama/pakar hadis) sewaktu menukilnya. Maksud kajian mereka bukan diarahkan untuk mencari shahih atau tidaknya suatu riwayat, akan tetapi lebih dititikberatkan untuk direnungkan isi kandungannya.

 

   

========================================

*) Sumber : Diambil dari salah satu bagian dari kitab :
Judul Asli
: مفـاهـيم يجب أن تـصحح
Penulis
: Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Alih Bahasa
: Achmad Suchaimi
Judul Terjemahan
: Pemahaman Yang Perlu Diluruskan (PYPD)

Kamis, 16 Mei 2013

MKTS - 2. Kawasan Tanah Haram Makkah

Penulis : Achmad Suchaimi




Alloh SWT mensucikan tanah suci haram Makkah sejak diciptakannya bumi sampai hari kiamat, sebagaimana Dia mensucikan kota Makkah itu sendiri.
Menurut riwayat, Nabi Adam pernah berdoa kepada Alloh agar diselamatkan dari gangguan Iblis yang pernah mencelakakannya di surga. Doa beliau dikabulkan, lalu Alloh menurunkan para malaikat turun ke bumi untuk menjaga, mengelilingi dan memagari tanah tempat Nabi Adam dan anak keturunannya tinggal agar terhindari dari gangguan Iblis.  Tempat para malaikat berjaga itulah yang kemudian menjadi batas-batas Tanah Suci Haram Makkah. 

Dikisahkan, malaikat Jibril memberitahu-kan kepada Nabi Ibrahim tentang batas-batas tanah Haram Makkah dan menyuruhnya untuk menandainya dengan menancapkan batu-batu. Hal ini dilaksanakan Nabi Ibrahim  maka pantaslah jika beliau dipandang sebagai orang yang pertama kali menandai batas-batas kawasan kota suci  Makkah, yakni batas yang memisahkan antara tanah suci (tanah haram) dengan lainnya.
Setelah Fat-hu Makkah (Pembebasan kota Makkah), Rosululloh SAW menugaskan Tamim bin Asad al-Khaza'iy untuk memperbaiki dan memperbaharui tanda-tanda batas tanah haram tersebut. Kemudian diteruskan para khalifah sesudahnya, sehingga mencapai 943 buah tanda yang ditancapkan di atas gunung, bukit, lembah dan tempat-tempat tinggi lainnya. 

Tugu Batas Tanah Haram
Panjang Tanah Haram 127 km, dan luasnya kurang lebih 550 km persegi. Di dalam kawasan ini Alloh menjadikannya sebagai tempat kembali dan tempat bertemunya semua manusia (matsabah, ketika ber-hajji) dan tempat yang aman (amna). 
Di kawasan ini dilarang melakukan kejahatan,  zhalim, membunuh, mencabut dan merusak tanamannya, berburu hewannya, mengambil /  memindahkan tanah-batunya ke luar Tanah Haram, dan berbuat dosa besar lainnya.
Alloh berfirman : 

"Sungguh, orang-orang  yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih". (QS Al-Hajj: 25)
Setelah peristiwa Fat-hu Makkah, orang kafir, musyrik, Yahudi dan Nasrani dilarang memasuki kawasan Tanah Haram. (QS At-Taubah,[9] : 28).
Tabel di bawah ini menjelaskan jarak antara Masjidil Haram dan daerah batas-batas tanah suci Makkah.

Tan’im
Nakhlah
Adlat Laban
Ji’rana
Hudaibi-yah
Bukit Arafah
7,5 km
13 km
16 km
22 km
22 km
22 km


Selasa, 14 Mei 2013

Tawassul




Oleh KH Ali Ma’shum

PENGERTIAN
Kata Tawassul  berasal dari bahasa Arab “التوسل” artinya memakai perantara. Jadi Doa dengan cara tawassul adalah memohon kepada Allah  dengan perantaraan sesuatu. Sedangkan  sesuatu yang dipakai perantara itu disebut dengan Wasilah.

RAHASIA DAN LATAR BELAKANG TAWASSUL
Syaikh Abu Saif Al-Hammamiy, salah seorang Ulama Al-Azhar, menyatakan bahwa terdapat sekelompok orang yang mengatakan bahwa tawassul itu hukumnya musyrik (membawa kekafiran), dan karenanya maka orang yang bertawassul dengan Nabi dan para wali Allah telah menjadi halal darahnya.
Lebih lanjut Abu Saif Al-Hammamiy mengatakan bahwa orang yang bertawassul itu sama sekali tidak beri’tiqad, bahkan terlintas dalam hatinya bahwa Nabi dan para Wali yang ditawassuli itu tempat tujuan akhir  memohon, melainkan mereka yakin bahwa hanya Allah belaka yang mengabulkan permohonan. Demikianlah sesungguhnya keyakinan yang ada dalam benak hati orang-orang yang tawassul. Siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.
Jika kita mau membaca diri sendiri, maka akan mengetahui bahwa diri kita ini penuh dosa, maksiat, dan kelaliman. Dan ini semua mengakibatkan terhalangnya pengabulan pengabdian kita. Dan karena doa itu termasuk pengabdian (ibadah), maka doapun akan tidak terkabulkan karena Allah berfirman :
...... إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ
“ …… sesungguhnya Allah hanya menerima (pengabdian) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al- Maidah : 27)
Oleh Karena itu, maka selayaknya jika dalam mengajukan suatu permohonan perlu memakai perantara orang-orang yang dekat kepada Allah, yaitu para Nabi, Waliyullah, Ulama, dan Orang-orang yang Sholih. Sebab merekalah orang-orang yang paling berhak memperoleh kenikmatan dari Allah dan permohonannya selalu dikabulkan.
Dengan begitu, maka Tawassul itu sesungguhnya adalah salah satu cara yang lebih etis/sopan serta luwes dalam mengajukan suatu permohonan kepada Allah, Zat yang Maha Suci dan Maha Agung.
Allah adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Mengabulkan permohonan. Sedangkan manusia sebagai makhluk sudah pasti mempunyai aturan, sopan santun dan tata krama sendiri dalam upaya mendapatkan kemurahan tersebut. Memanglah kesopanan dan tata krama hanya dilakukan oleh orang yang mau sopan, tahu adab dan tidak sombong.
Dalam kenyataannya hampir seluruh anugerah Allah yang dicurahkan kepada makhlukNya itu pasti dengan perantaraan sesuatu. Obat menjadi perantara datangnya kesembuhan. Ulama / guru menjadi wasilah datangnya ilmu. Orang kaya menjadi wasilah datangnya rezeki Allah. Dan lain-lain. Semua itu sebagai wasilah. Sedangkan sumber pertama adalah Allah. Demikian pula dalam masalah doa, anugerah Allah yang wujudnya keterkabulan itu datangnya dengan wasilah para Nabi, Ulama dan Sholihin.

BENTUK TAWASSUL.
Tawassul itu bentuknya ada 2 ( dua ) macam :
1. Tawassul dengan orang lain. Tawassul bentuk ini ada 2 ( dua ) macam, yaitu ;
a). Meminta tolong kepada orang lain agar orang itu     memohonkan     sesuatu yang kita kehendaki kepada Allah. Hal ini telah terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat :
“ ……Dan kalaulah mereka telah berbuat lalim atas diri mereka, lalu datang kepadamu (Muhammad) untuk memohon ampunan kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun buat mereka, niscaya akan mereka dapati Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang “. (QS. An-Nisa : 64 )
Ayat ini dengan jelas mengajarkan kita untuk bertawassul. Dalam hal ini meminta tolong kepada Rasul agar beliau memohonkan ampun buat kita kepada Allah.
b.) Memohon kepada Allah dengan perantara / tawassul keagungan derajat  orang lain di sisi Allah. Misalnya membaca Shalawat Badar ; adalah memohonkan rahmat Nabi dengan perantaraan keagungan sahabat pahlawan Badar (Bi ahli Badri Ya Allah). Dalam suatu Hadits Nabi mengajarkan kepada seseorang yang buta dan ingin memohon agar sembuh dari butanya. Doa tersebut adalah memakai tawassul,  yaitu :
اَلّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَامحَمَّدُ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّى فِى حَجَتِي هَدِهِ لِتَقْضِيَ، اَلّلهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ. ( رواه الترمذى وغيره)

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu dengan perantaraan NabiMu, Muhammad Nabi Rahmah, Ya Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku dengan perantaraan engkau dalam hajatku ini agar engkau penuhi, Ya Allah Syafa’atkanlah dia buatku “. ( Riwayat At-Turmudzi, An-Nasa’i, Baihaqi, dan Thabarani).
Setelah selesai berdoa, maka sembuhlah penyakitnya dan bisa melihat seperti sedia kala. Demikian ajaran Nabi untuk tawassul.

2.    Tawassul dengan amal kebaikani. Hal ini berdasarkan sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Haditsnya terlalu panjang untuk kita kutip di sini. Inti ceritanya sebagai berikut : “ Ada tiga ( 3 ) orang tertidur di dalam gua. Gua tersebut lalu pintunya tertutup. Dengan Tawassul amal kebaikan orang bertiga tersebut, ternyata dalam waktu singkat doanya terkabul dan pintu gua pun terbuka. ( Hadts ini termaktub juga dalam kitab syarah Hadits Dalilul Falihin Juz I, hal. 71 – 77 )

PRAKTEK PELAKSANAAN TAWASSUL
Pada dasarnya tawassul itu dilaksanakan dalam rangka mencari / menempuh jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana firmanNya :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ وَابْتَغُوْا  إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ ....
Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan carilah wasilah ( = jalan untuk mendekatkan ) kepada Allah …..”. ( QS. Al Maidah : 35 )
Ayat ini memerintahkan agar kita bertakwa dan mencari wasilah kepadaNya.

Dalam sejarah perjalanan Islam, tawassul selalu dilakukan oleh para Ulama, bahkan oleh Nabi dan sahabat beliau.
1. Rasulullah pernah tawassul dengan hak Sa-iliin (pemohon kepada Allah) dan hak perjalanan beliau sendiri. Yaitu beliau berdoa :
 اَلّلهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّا ئِلِيْنَ لَكَ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا إِلَيْكَ (رواه أحمد وغيره)       
Ya Allah kami memohon kepadaMu dengan tawassul pada hak para pemohon kepadaMu dan hak perjalanan kami ini…..”. (HR. Ahmad, Baihaqi, Thabrani ).
Beliau mendoakan pada jenazah Ummu Fathimah dan tawassul dengan para Nabi sebelum beliau :
إِغْفِرْ ِلأُمَّ فَاِطمَةِ بِنْتِ أَسَدٍ وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مَدْخَلَهَا بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَاْلأِ نْبِيَاءِ اّلَذِيْنَ مِنْ قَبْلِي ( رواه الطبراني وصححه إبن حبّان)
Ampunilah (dosa) Ummu Fathimah binti Asad dan luaskanlah tempatnya, dengan tawassul pada Nabi-Mu dan para Nabi sebelum aku “. ( Riwayat Ath-Thabrani, dan dinyatakan Shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dari Anas bin Malik )
2.  Sahabat Umar pernah tawassul dengan Sayidina Abbas. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari :

إِنَّ عُمَرَاْبنَ الْخَطَّاب كَانَ إِذَا قحَطْوَا إِسْتَسْقَى بِاْلعَبَّاسِ بن عبدِ المُطَّلِب، فَقَالَ :اَلّلهُمَّ كُناَّ نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا وإنَا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ بِنَبِيِّنَا فَاسْقِنَا – فَيَسْقَوْنَ. (رواه البخاري) 
Sesungguhnya Umar bin Khathab bila terjadi kemarau panjang memohon hujan dengan tawassul pada Saiyidina Abbas bin Abdul Mutholib dan doanya : Ya Allah, kami memohon kepadaMu dengan tawassul pada Nabi kami maka turunkanlah hujan dan tawassul dengan paman Nabi kami maka, turunkanlah hujan. Maka hujanpun turun dengan deras “. (HR. Bukhari ).
3.   Imam Syafi’i suka berziarah ke makam Imam Hanafi dan tawassul dengannya.
4.    Imam Hambali berziarah ke makam Imam Syafi’i  dan tawassul dengannya.
5.   Imam Abu Hasan Asy-Syazili menganjurkan agar tawassul dengan Imam Al-Ghozali bila  mempunyai hajat.
6.   Syaikh Al-Bakri bin Muhammad Syatha’ –penyusun kitab ‘I’anatuth thalibin- bertawassul dengan Rasulullah.
7.    Imam Abdul Rauf Al-Manawi, pengarang Faidhul Qadir kitab syarah hadts Al-Jamiush Shaghir, bertawassul dengan Rasulullah.
8.   Syaikh Tharabulusi, pengarang kitab Tauhid Al-Husunul Hamidiyah, bertawassul dengan Zat Allah, sifat Allah, dan Asma Allah serta Ruhaniyyah Rasulullah.
9.   Para Ulama dan Kyai di Indonesia semuanya hampir ahli ziarah kubur dan bertawassul dengan Rasulullah, waliyullah, dan para Ulama yang telah meninggal dunia.
10. Shalawat Badar yang biasa di baca oleh kaum Muslimin Indonesia adalah merupakan tawassul dengan para Syuhada’ Badar (Bi Ahlil Badri Ya Allah).

Melihat data tersebut, jika benar bahwa tawassul itu hukumnya musyrik sebagaimana yang didakwahkan oleh sekelompok orang, maka berarti Rasulullah, para sahabat, dan para Ulama tersebut semuanya masuk neraka. Sebab musyrik itu merupakan dosa besar yang tidak bisa diampuni. Lalu, siapa gerangan yang akan masuk sorga?. Adakah surga yang seluas langit dan bumi itu hanya disediakan untuk beberapa gelintir manusia yang memusyrikkan tawassul ?

TAWASSUL DENGAN ORANG MATI
Melihat uraian di atas, maka diketahui bahwa tawassul dapat dilakukan dengan orang-orang yang dekat pada Allah, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
Apabila berwasilah itu dengan Rasulullah, maka ada sebuah Hadits yang menyatakan bahwa para Nabi itu masih tetap hidup setelah dikubur, bahkan melakukan shalat. Bunyi Haditsnya :
اْلأَ نْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِى قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ (رواه البيهقى)

“ Para Nabi adalah masih tetap hidup di kubur mereka dan melakukan shalat “. (Riwayat Al-Baihaqi)
Apabila berwasilah itu dengan para Ulama dan Shalihin, maka dinyatakan suatu ayat bahwa mereka tetap hidup setelah matinya dan mendapat kenikmatan dari Allah :
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِي سَبِيْلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا,  بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ  
Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah itu mati, melainkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan memperoleh rezeki “.
(QS. Ali Imran : 169 )
Ayat ini menyatakan bahwa orang mati di jalan Allah, atau orang mati dalam keadaan Shalih pada hakekatnya tetap hidup. Sudah barang tentu hidupnya bukan di alam dunia lagi tetapi di alam Barzah. Mereka mendapat kenikmatan dan keutamaan di sana termasuk keutamaan mereka adalah mampu digunakan sebagai wasilah
Disamping itu, Mazhab empat telah sepakat memperbolehkan tawassul dengan orang-orang Sholih, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Bahkan menganjurkan untuk melakukannya. Ulama Salaf dan Khalaf dari Ahlilmadzhab empat,  Madzahibil Arba’ah mensunnahkan bagi penziarah ke makam Nabi agar memohon syafa’at dan tawassul dengan Nabi. sebagai berikut :
يَارَسُوْلَ اللهِ إِنِّي قَدْ جِئْتَكَ مُسْتَغْفِرًامِنْ ذَنْبِى مُتَشَفِّعًا بِكَ إِلَى رَبِّى
Ya Rasulullah sesungguhnya aku datang menghadap engkau seraya memohon syafa’atmu guna memohon ampun kepada Tuhanku dari dosaku”.