![]() |
Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki |
Beberapan ulama menjelaskan di tengah pembahasannya
mengenai kekhususan dan keistimewaan Rasulullah saw, bahwa malam Maulid Nabi
saw lebih mulia daripada Lailatul Qadar (Malam Qadar). Mereka
mencoba membandingkan kemuliaan kedua malam tersebut. Namun yang perlu kami
tegaskan terlebih dahulu di sini adalah perlunya mengetahui definisi Malam
Maulid.
Malam Maulid Nabi adalah suatu
malam terjadinya kelahiran Nabi Muhammad saw, dalam pengertian yang sebenarnya,
yang terjadi ratusan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 571 masehi, sebelum
terjadinya Malam Qadar pada tahun 610 masehi. Jadi yang dimaksud dengan Malam
Maulid Nabi bukanlah berarti “Malam Ulang Tahun Kelahiran Nabi
saw” yang dirayakan sekali dalam setiap tahunnya. Kajian yang sebenarnya
dari persoalan ini bukanlah dipandang dari sudut “banyaknya keutamaan dan
faedahnya”, dan sekali-kali tidak menyangkut pertentangannya dengan prinsip Akidah.
Pada dasarnya kami meyakini adanya keutamaan didalam Malam
Maulid Nabi dan Lailatul Qadar. Peristiwa Maulid Nabi (kelahiran
Nabi saw) telah berlalu dan tidak akan berulang kembali. Sedangkan Lailatul
Qadar tetap terwujud dan selalu hadir secara berulang-ulang sekali dalam setiap
tahunnya. Oleh karena itu, Lailatul Qadar adalah malam yang paling utama
dari sekalian malam yang lain, termasuk Malam Maulid Nabi itu sendiri.
Allah swt berfirman :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)وَمَا أَدْرَاكَ
مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada
malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan
itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadar,[97] : 1-3)
Persoalan ini sangat ramai dibicarakan para ulama dan para
pakar, termasuk dari kalangan para tokoh ulama salaf. Ibnu Taimiyah
menitikberatkan pembahasannya pada perbandingan antara keutamaan Lailatul Qadar dan malam Isra’
Mi’raj secara mendalam dan teliti, yang hal ini belum pernah dilakukan oleh
para ulama jaman dahulu, baik di kalangan ulama salaf maupun ulama pada abad
pertama hijriah, terutama oleh para sahabat, dan terlebih lagi oleh Rasulullah
saw sendiri.
Orang-orang pernah bertanya kepada Ibnu Taimiyah : “ Sebagian
ulama mengatakan bahwa Malam Isra’ Mi’raj lebih utama daripada Lailatul Qadar.
Sementara sebagian yang lain mengatakan yang sebaliknya. Mana di antara dua
pernyataan yang benar?”.
Jawaban Ibnu Taimiyah : “Alhamdulillah. Mengenai
orang yang mengatakan bahwa Malam Isra’ Mi’raj lebih utama daripada Lailatul
Qadar, dengan disertai suatu pemahaman agar malam yang lebih utama tersebut
dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk beribadah, melakukan Qiyamul
lail, memperbanyak doa dan amal
shaleh lainnya, maka pemahaman semacam itu adalah salah, batil, tidak benar
sama sekali dan belum pernah diucapkan oleh seorang muslim pun, bahkan
merupakan pemahaman yang dapat merusak ajaran Islam itu sendiri. Akan tetapi
jika yang mereka maksudkan dengan Malam
Isra’ Mi’raj adalah suatu malam di
mana pada saat itu (tanggal 27 Rajab tahun kedua sebelum hijrah) Rasulullah saw
di-Isra’-Mi’raj-kan, tanpa di sertai embel-embel perintah secara khusus
agar mempergunakan malam tersebut untuk melakukan ibadah Qiyamul lail dan
ibadah lainnya, maka pemahaman seperti inilah yang benar. (Lihat bagian
pendahuluan kitab Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim).
_________________________________________________
*) Sumber : Diambil dari salah satu bagian
dari kitab :
|
|
Judul Asli
|
: مفـاهـيم يجب أن تـصحح
|
Penulis
|
: Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi
Al-Maliki
|
Alih Bahasa
|
: Achmad Suchaimi
|
Judul
Terjemahan
|
: Pemahaman Yang Perlu Diluruskan
(PYPD)
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar