Tampilkan postingan dengan label tawassul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tawassul. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

PYPD - 21. Daftar Para Ulama Besar Yang Mempraktekkan Tawassul


Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki


Ringkasan
 
Tidak perlu diragukan bahwa Rasulullah saw memiliki kedudukan, martabat dan kehormatan yang agung di sisi Allah swt. Sekarang tunjukkan, mana dalil syar’iy dan ‘aqly yang melarang seseorang bertawassul dengan perantaraan beliau? Lebih-lebih banyak dalil yang menetapkan kebolehan bertawassul baik selama beliau hidup di dunia maupun di akhirat nanti.
Sewaktu bertawassul, kita sebenarnya tidak memohon kepada selain Allah swt dan tidak berdoa kecuali hanya kepada-Nya. Kita berdoa kepada-Nya dengan perantaraan apa saja yang Dia cintai, apapun bentuknya. Terkadang kita berdoa tawassul dengan perantaraan amal shalih kita, karena Dia tentu mencintai amal tersebut. Terkadang bertawassul dengan seseorang dari sekalian makhluk yang dicintai Allah swt, sebagaimana yang dijelaskan didalam hadis tentang tawassulnya Nabi Adam, hadis tentang Fathimah binti Asad, dan hadisnya Usman bin Hunaif. Terkadang kita bertawassul dengan perantaraan Al-Asmaul Husna, sebagaimana yang pernah dipraktekkan Rasulullah saw didalam salah satu doanya:
 
أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّـهَ ….
Aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan bahwa Engkaulah Allah ….

Atau dengan perantaraan Sifat dan Af’al Allah, seperti yang dipraktekkan beliau saw dalam doanya:
 
أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ بِمُعَافَتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ
Aku berlindung kepada-Mu dari kebencian-Mu dengan perantaraan ridha-Mu, dan dari siksa-Mu dengan perantaraan sifat Pemaaf-Mu”.

Dan ini pun tidak terbatas pada lingkup persoalan yang sempit sebagaimana yang dituduhkan oleh mereka yang sinis terhadap praktek tawassul.
Rahasia di balik itu semua adalah, apa saja yang dicintai Allah swt, maka bertawassul dengannya adalah sah-sah saja.  Begitu pula setiap orang yang dicintai Allah swt, baik ia seorang Nabi, wali, maupun kaum shalihin pada umumnya, jelas diperbolehkan bertawassul dengan mereka bagi setiap orang yang memiliki fitrah yang selamat. Dan ini tidak bertentangan dengan dalil Nash dan akal waras. Bahkan akal dan nash-nash tersebut saling bantu membantu dan saling melengkapi didalam memperbolehkan praktek bertawassul, dengan catatan harus disertai suatu keyakinan bahwa yang dituju dan dimintai permohonannya adalah hanya Allah swt, dan bukan minta bantuan baik kepada para Nabi, auliya’, orang yang masih hidup, maupun yang sudah mati.
Allah swt berfirman :
 
  قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا(78)
Katakanlah: ‘Semuanya (datang) dari sisi Allah swt’ . Maka, mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (nasehat,pelajaran) sedikitpun?” (QS An-Nisa’,[4] : 78)

Jika bertawassul kepada Allah swt dengan perantaraan amal-amal shaleh saja diperbolehkan, apalagi dengan perantaraan Rasulullah saw, tentu lebih diperbolehkan. Karena beliau saw adalah makhluk Allah swt  yang paling utama, sementara amal-amal shaleh adalah bagian dari makhluk Allah swt tersebut. Selain itu, Allah swt sangat mencintai beliau daripada amal shaleh dan selainnya.
 Yang jelas, Rasulullah saw memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt, sementara  orang yang bertawassul itu telah bertawassul dengan perantaraan beliau saw adalah disebabkan oleh kedudukan beliau yang terhormat dan sangat dekat kepada Allah swt. Siapa saja yang mengingkari Posisi atayu kedudukan beliau yang terhormat ini, berarti ia tergolong kafir, sebagaimana penjelasan kami di muka.
Selanjutnya, praktek tawassul menunjukkan kebesaran dan keagungan Dzat Tuhan yang dimintai pertolongan, serta menunjukkan bukti betapa besarnya kecintaan orang yang bertawassul kepada Allah swt. Oleh karena itu, berdoa dengan cara bertawassul dengan Rasulullah saw hanyalah menunjukkan keagungan dan kemuliaan beliau di sisi Allah swt.
Tawassul dengan amal shaleh  telah disepakati kebolehannya oleh para ulama. Kenapa kita tidak mengatakan bahwa orang yang bertawassul dengan para Nabi, Rasul, atau kaum shalihin sama artinya dengan bertawassul dengan perantaraan amal-amal shaleh mereka yang dicintai Allah swt itu? Padahal sudah dijelaskan oleh hadis mengenai ketiga orang yang terjebak didalam gua, sehingga persoalan tawassul semacam ini seharusnya disepakati kebolehannya?
 Dan tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa orang yang bertawassul dengan para kaum shalihin tersebut sebenarnya hanyalah bertawassul dengan mereka disebabkan kedudukan mereka sebagai orang-orang yang ahli beramah shaleh. Maka persoalannya adalah kembali kepada Amal Shaleh yang disepakati kebolehannya untuk bertawassul dengannya.  Dengan kata lain, bertawassul dengan kaum shalihin pada dasarnya bertawassul dengan amal shaleh itu sendiri. Sebagaimana hal ini telah kami jelaskan di muka.
Tanggapan atas kekeliruan pandangan orang bodoh
 
Banyak hadis Nabi dan atsar sahabat yang menetapkan diperbolehkan tawassul . Jika dikatakan bahwa tawassul hanya dilakukan khusus pada waktu Rasulullah saw masih hidup, maka pengkhususan tersebut, menurut kami, tidaklah berdasar dan tidak ada dalil tertentu yang mendukungnya. Tawassul boleh saja dilakukan kapan saja, meskipun sesudah Rasulullah saw wafat atau hidup di alam barzah, karena Roh tidak mengenal mati dan yang mengenal mati adalah Jasad-nya. Ruh, meskipun ditinggalkan jasad-nya, ia masih bisa merasakan, merespon dan mengetahui.
Madzhab Ahlussunnah wal jamaah berpendapat bahwa orang yang sudah wafat sebenarnya itu masih bisa mendengar, melihat, merespon dan merasakan. Ia masih bisa mengambil manfaat dari amal shalehnya, dapat merasakan kegembiraan, serta dapat merasakan susah sakit akibat amal jeleknya.Keadaan semacam ini berlaku untuk semua orang, tanpa kecuali. Kenyataan ini terlihat pada saat usai perang Badar, Rasulullah saw memanggil arwah para tokoh kafir quraisy yang tewas di medan perang: “Hai “Utbah…!. Hai Syaibah …! Hai Rabi’ah…!”  Dan seterusnya. Para sahabat bertanya,: “Bagaimana mungkin engkau bisa memanggil mereka yang sudah tewas, padahal mereka sudah menjadi bangkai?”. Beliau saw bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak lebih mendengar daripada mereka. Hanya saja mereka tidak mampu menjawab”.
Arwah semua orang yang wafat saja mampu mendengar, apalagi Ruh makhluk yang paling utama, mulia dan terhormat Rasulullah saw. Meskipun sudah wafat, beliau tentu lebih sempurna perasaannya, pemahamannya dan kesensitifannya. Hal ini secara tegas dijelaskan oleh banyak Hadis Nabi. Di antara hadis tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah saw mendengar pembicaraan dan menjawab shalat-salam dari umatnya, serta memohonkan ampunan atas perbuatan jelek dan memuji kepada Allah swt atas perbuatan dari umatnya.
Nilai manusia, pada hakekatnya, hanyalah terletak pada kemampuan merasa, memahami dan merespon, bukan pada terletak pada hidup dan mati-nya. Karena itu, kita sering menyaksikan orang-orang yang tidak memiliki perasaan, pemahaman, pengertian, insting dan respon disebabkan mereka tidak berguna, lalu mereka digolongkan tidak obahnya seperti orang yang mati, yakni mati di saat hidupnya. Semoga Allah swt senantiasa melindungi kita. Amin.
Di antara mereka yang tergolong Mati di saat hidupnya, -- dalam pengertian bahwa mereka sebenarnya masih hidup, akan tetapi karena mereka tidak bermanfaat, dan tidak mau mempergunakan perasaan, pikiran dan hatinya, maka tak obahnya mereka seperti orang yang mati – adalah mereka yang menganggap bahwa Ruh Rasulullah saw tidak mampu mendengar dan melihat kita, serta tidak mampu mendoakan kita yang masih hidup di dunia. Kecerobohan dan kebodohan apalagi yang jelek daripada anggapan mereka tersebut? Padahal banyak sekali hadis Nabi dan atsar sahabat yang saling mendukung, memperkuat dan menyatakan bahwa mayit itu masih mampu mendengarkan, melihat, merasakan dan mengetahui keadaan orang yang masih hidup, baik mayit tersebut muslim maupun kafir.
Ibnul Qayyim, didalam kitabnya Ar-Ruh, mengatakan: “Ulama salaf sepakat atas keadaan mayit tersebut. Dan atsar-atsar dari mereka yang menjelaskan keadaan ini mutawatir”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya seseorang mengenai persoalan ini, kemudian ia mengeluarkan fatwa yang memperkuat kebenaran persoalan ini. (Al-Fatawa, jilid 24; hal. 331 dan 362).
Bila keadaan mayit tersebut berlaku bagi manusia pada umumnya, lalu bagaimana dengan keadaan yang menyangkut seluruh umat  Islam, khususnya kaum shalihin, dan terutama lagi Nabi Muhammad saw ?
Persoalan ini akan kami jelaskan didalam pembahasan secara khusus dan rinci didalam buku ini, dengan tema : “Kehidupan di alam barzah merupakan kehidupan yang hakiki” dan “Kehidupan Khas Rasulullah saw di alam barzah”.

 
Daftar Para Ulama Yang Mempraktekkan Tawassul
 
Berikut ini adalah daftar para tokoh ulama besar dan para ahli hadis yang mempraktekkan dan memperbolehkan tawassul :
1. Al-Imam al-Hafizh Abu Abdillah al-Hakim, dalam kitabnya Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain menyebutkan hadis yang dinilainya shahih tentang tawassulnya Nabi Adam dengan perantaraan Rasulullah saw.
2. Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqy, didalam kitabnya Dalailun Nubuwwah, menuturkan  tawassulnya Nabi Adam dan selainnya.
3. Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthy, didalam kitabnya Al-Khashaishul Kubra, menuturkan hadis tawassulnya Nabi Adam.
4. Imam al-Hafizh Abul Faraj ibn al-Jauzy, didalam kitabnya Al-Wafa, juga demikian.
5. Imam al-Hafizh al-Qadhy ‘Iyadh, didalam kitabnya Asy-Syifa’ fit Ta’rif Bihuquq al-Musthafa SAW, menuturkan dalam bab “Ziarah” dan bab “Fadhlun Nabiy saw”, yang sebagian besar isinya membahas tentang persoalan tawassul.
6. Imam asy-Syaikh Nuruddin al-Qary, yang terkenal dengan julukan Mulla ‘Ali Qary, didalam komentarnya terhadap kitab Asy-Syifa’.
7. Al-‘Allamah Ahmad Syihabuddin, didalam komentarnya terhadap kitab Asy-Syifa’ dengan judul Nasimur-Riyadh.
8. Imam al-Hafizh al-Qasthalany, didalam kitabnya Al-Mawahib al-Laduniyyah, membicarakan persoalan tawassul pada bagian pertama kitabnya.
9. Al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad Abdul Baqy Az-Zarqany, didalam komentarnya terhadap kitab Al-Mawahib al-Laduniyyah, pada juz 1; hal. 44.
10, Imam Syaikhul Islam Abu Zakariya Yahya an-Nawawy, didalam kitabnya Al-Idhah, pada bab keenam, hal. 498.
11. Al-‘Allamah Ibnu Hajar al-Haitamy, didalam kitab hasyiyah-nya atas kitab Al-Idhah halaman 499. Dia menulis sebuah Risalah yang secara khusus membahas tentang persoalan tawassul dengan judul Al-Jauharul Muanzh-zham.
12. Al-Hafizh  Syihabuddin Muhammad bin Muhammad bin al-Jauzy ad-Dimasqy, didalam kitabnya ‘Iddatul Hashnil Hashin, pada bab “Keutamaan doa”.
13. Al-‘Allamah al-Imam Muhammad ‘Aly asy-Syaukany, didalam kitabnya Tuhfatudz-Dzakirin pada halaman 161.
14. Al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits ‘Ali bin Abdulkafi as-Subky, didalam kitabnya Syifaus Saqam fi Ziyaratil Khairil Anam.
15. Al-Hafizh ‘Imaduddin Ibn Katsir, didalam kitab Tafsirnya terhadap ayat 64 QS An-Nisa’. Beliau menuturkan kisah Al-‘Utba bersama seorang A’rabi yang datang menziarahi makam Rasulullah saw dengan maksud memohon syafaatnya. Juga  menuturkan tentang tawassulnya Nabi Adam dengan Rasulullah saw didalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah, dan tidak menilainya sebagai hadis maudhu’ (pada juz 1; hal. 180), serta menuturkan “Sandi” tentara Islam “Ya Muhammadaah” (pada juz 6; hal. 324)
16. Al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar menuturkan kisah seorang lelaki yang menziarahi makam Rasulullah saw dan bertawassul dengannya di dalam kitabnya Fathul Bary, juz 2; hal. 495. Sanadnya shahih.
17. Al-Imam al-Muhaddits Abu Abdillah al-Qurthuby menafsirkan ayat 64 QS An-Nisa’, didalam kitabnya Tafsir Al-Qurthuby, juz 5; hal. 265.




Minggu, 09 Juni 2013

PYPD - 17. Bertawassul Dengan Rasulullah SAW Sebelum Lahir ke Dunia



Oleh: Prof. DR.Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki


Nabi Adam as pernah bertawassul dengan perantaraan Rasulullah saw sebelum beliau terlahir ke dunia. Berdasarkan hadis yang diketengahkan oleh  Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak : “Telah bercerita kepada kami Abu Sa’id Amer bin Muhammad bin Manshur, seorang yang adil. Bercerita kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali. Bercerita kepada kami Abul Haris Abdullah bin Muslim al-Fihri. Bercerita kepada kami Ismail bin Maslamah. Bercerita kepada kami Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Dari bapaknya, dari kakeknya, dari Umar bin Khatthab ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sewaktu Nabi Adam melakukan kesalahan, lalu beliau berdoa : “Ya Rabb ! Aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan Muhammad, agar Engkau memaafkanku”. Allah swt berfirman kepadanya: “Hai Adam ! Bagaimana Anda tahu nama Muhammad, sementara Aku belum menciptakannya ke dunia ?”. Adam menjawab: “Ya Rabb ! Sewaktu Engkau menciptakan aku dengan Tangan-Mu sendiri dan Engkau tiupkan sebagian ruh-Mu kedalam tubuhku, saat itu aku mengangkat wajahku ke ‘Arasy, lalu aku melihat bahwa di antara tiang-tiang penyangga ‘Arasy itu tertulis kalimat  La ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah (Tiada Tuhan selain Allah. Muhammad adalah utusan Allah), sehingga aku menjadi tahu bahwa Engkau tidak akan menyandarkan seorang makhluk kepada Asma’-Mu melainkan ia tentu seseorang yang paling Engkau cintai”. Allah swt berfirman : “Anda benar, hai Adam ! Sesungguhnya dia (Muhammad) adalah orang yang paling Aku cintai. Karena itu, berdoalah kepadaku dengan perantaraan hak dia, tentu Aku akan memaafkan dosa-dosa Anda. Sekiranya bukan karena Muhammad, tentu Aku tidak akan menciptakan Anda”. (HR Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, juz 2; hal.615. Beliau menilainya Shahih).
Al-Hafizh As-Suyuthy meriwayatkan hadis di atas dalam kitab Al-Khashaishun Nabawiyyah dan menilainya sebagai hadis shahih. Al-Qasthalany, Al-Zarqany dalam kitab Al-Mawahib al-Laduniyyah (juz 1; hal. 62) dan As-Subky dalam kitab Syifa-us Saqam, ketiga imam hadis tersebut menilainya sebagai hadis shahih. Sementara Al-Hafizh al-Haitsamy mengatakan : “Imam At-Thabrany meriwayatkan hadis tersdebut dalam kitab Al-Ausath, dan didalamnya ada rawy-rawy yang tidak aku kenal” (Majma’ al-Zawaid,  juz 8; hal. 253)
Teks hadis lainnya bersumber dari Ibnu Abbas ra : “Sekiranya bukan karena Muhammad, tentu Aku tidak menciptakan Adam, surga dan neraka”. Hadis ini diriwayatkan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak (juz 2 ; hal. 615), dengan diberi komentar : “Hadis ini sanadnya shahih”.
Hadis tersebut juga dinilai shahih oleh Syaikhul Islam Al-Baqilany dalam kitabnya Al-Fatawy. Syaikh Ibnu al-Jauzy mengutip hadis tersebut pada awal tulisannya dalam kitab Al-Wafa. Demikian pula Ibnu Katsir mengutip hadis tersebut dalam kitab Al-Bidayah juz 1; hal. 180.
Sebagian Ulama ada yang memperselisihkan kebasahan hadis di atas. Setelah membicaraan derajat hadis tersebut, mereka lalu menolaknya dan menempatkannya sebagai hadis maudhu’ (hadis palsu). Seperti Al-Dzahaby dan ulama lainnya. Sebagian mereka menilainya sebagai hadis dha’if (hadis lemah), dan sebagian lagi menilainya sebagai hadis munkar.
 Dari keterangan di atas maka tahulah kita bahwa mereka sangat berbeda dalam menilai derajat hadis tawassulnya Nabi Adam tersebut. Atas kenyataan itu, maka persoalannya sekrang adalah berkisar pada masalah penetapan (itsbat), penolakan, penerimaan dan pembekuan atau penundaan pembahasan terhadap hadis tersebut, disebabkan perselisihan mereka terletak pada menentukan derajat sebuah hadis. Perselisihan mereka terbatas pada pandangan mereka dari sudut sanad dan ketetapan hadis. Sementara dari sudut isi kandungannya, marilah kita tengok bagaimana komentar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 

  
1. Bukti kebenaran hadis tentang tawassulnya Nabi Adam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengemukakan dua buah hadis sebagai bukti dan argumentasi tentang kebenaran adanya hadis tawassulnya Nabi Adam sebagaimana yang dikemukakan di atas :
Bukti Pertama : Abul Faraj bin al-Jauzy meriwayatkan hadis yang sanadnya sampai kepada Maisarah ra. Ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Sejak kapan engkau menjadi Nabi ?”. Beliau saw menjawab: Setelah Allah swt menciptakan bumi, Dia lalu menuju penciptaan langit dan membentangkannya menjadi tujuh lapis, kemudian menciptakan ‘arasy seraya menuliskan kalimat : La ilaha illallah. Muhammadur Rasulullah, Khatamun Nabiyyin (Tiada Tuhan selain Allah. Muhammad adalah utusan Allah, Penutup para Nabi) diatas tiang penyanggahnya. Selanjutnya Allah swt menciptakan sorga, tempat tinggal Nabi Adam dan Hawa’, lalu menuliskan namaku di atas pintu-pintunya, dedaunan, kubah-kubahnya tenda-tenda dan bangunan-bangunan di sorga. Sementara itu Nabi Adam masih berwujud antara ruh dan jasad. Sewaktu Allah swt menghidupkannya, lalu beliau melihat ke arah ‘arsy dan dilihatnya  namaku terpamppang di sana, kemudian Allah swt memberi tahu kepadanya bahwa nama Muhammad adalah  pemimpin anak keturunannya. Tatkala syetan berhasil menjerumuskan atau menipu Nabi Adam dan Hawa’, mereka berdua kemudian bertaubat dan memohon bantuan syafa’at kepada Allah swt dengan perantaraan namaku”.
Bukti Kedua : Abu Na’im al-Hafizh dalam kitab Dalailun Nubuwwah menyebutkan sebuah hadis dari jalur syaikh Abul Faraj: Telah bercerita kepada kami Sulaiman bin Ahmad; bercerita kepada kami Ahmad bin Rasyid; bercerita kepada kami Ahmad bin Sa’id al-Fihry; bercerita kepada kami Abdullah bin Isma’il al-Madany, dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari sahabat Umar bin Khatthab ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sewaktu Nabi Adam as melakukan kesalahan, ia mengangkat kepalanya ke atas seraya berdoa: ‘Ya Rabb ! Berkat kebenaran Muhammad, ampunilah dosa-dosaku’. Kemudian Allah swt berfirman kepadanya :‘ Apa dan siapa Muhammad itu ?’. Beliau jawab : ‘Ya Rabb ! Sewaktu Engkau menyempurnakan penciptaan atas diriku, aku angkat kepalaku ke arah arasy-Mu, tidak tahunya di sana tertulis kalimat La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah, sehingga aku menjadi tahu bahwa dia adalah makhluk-Mu yang  paling mulia, disebabkan Engkau telah menyandingkan namanya dengan Nama-Mu’. Allah swt berfirman : ‘Benar, katamu ! Sekarang Aku ampuni dosa-dosamu. Memang dia adalah Nabi terakhir dari anak keturunanmu. Seandinya bukan karena dia, tentu Aku tidak akan menciptakanmu”.
Hadis di atas memperkuat hadis sebelumnya. Kedua hadis di atas adalah seperti tafsir terhadap hadis-hadis shahih. (Dikutip dari kitab Al-Fatawa, juz 2; hal.150 karya Ibnu Taimiyah).
Kami berpendapat, penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hadis tawassul sebagaimana di atas, menurut Ibnu Taimiyah, pantas dijadikan sebagai dalil, argumentasi dan I’tibar. Karena hadis maudhu’  atau bathil tidak dapat dijadikan sebagai argumentasi menurut pendapat muhadditsin (para pakar di bidang ilmu hadis). Dengan demikian, Anda sekarang telah mengetahui bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah saja mau mengambil hadis tawassul tersebut sebagai argumentasi dan dijadikan sebagai penafsir atau penjelas terhadap hadis-hadis shahih lainnya.
Koreksi Ibnu Taimiyah mengenai pemahaman terhadap khushusiyyah Rasulullah saw . Dalam kitab Al-Fatawa, juz 11; hal. 96 beliau mengatakan, “Nabi Muhammad adalah pemuka para seluruh anak keturunan Nabi Adam. Dia seorang makhluk yang paling utama dan  mulia. Dari kekhususan Rasulullah saw tersebut, ada orang yang mengatakan bahwa Sesungguhnya Allah swt menciptakan alam semesta ini adalah karena Muhammad. Atau dengan kata lain : Seandainya bukan karena Muhammad, tentu Allah swt tidak akan menciptakan arasy, kursy, langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi  ini bukanlah sebuah hadis dari Rasulullah saw, baik shahih ataupun dha’if. Tidak seorang ahli hadis pun yang pernah meriwayatkannya. Tidak diketahui dari sahabat siapa. Bahkan tidak diketahui, siapa yang mengucapkannya pertama kali. Mungkin ini merupakan penafsiran terhadap firman Allah swt :
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْض ِأَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi”  (QS Luqman,[31] : 20)
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ(32)وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ(33)وَءَاتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ(34)
 Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).” (QS Ibrahim, [14] : 32-34)
Juga penafsiran terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang sejenis yang menjelaskan bahwa Allah swt menciptakan seluruh makhluk-Nya adalah untuk keperluan anak keturunan Adam. Dan kita tahu bahwa Allah swt  melakukan yang demikian itu tentu ada hikmah lain yang besar, selain untuk kepentingan anak Adam. Bahkan hikmah lain tersebut justru lebih besar lagi. Namun secara khusus Allah swt menjelaskan kepada anak Adam sesuatu hikmah dan manfaat yang terkandung didalamnya, serta suatu nikmat yang dianugerahkan kepada mereka.
Jika ada yang mengatakan bahwa Allah swt berbuat begini dan begitu untuk ini dan itu, maka ini bukan berarti bahwa hal itu tidak terkandung suatu hikmah untuk yang lain. Demikian pula perkataan orang bahwa seandainya tidak karena ini dan itu, tentu Allah swt tidak akan menciptakan ini dan itu, adalah bukan berarti tiadanya tujuan dan hikmah lain yang lebih besar. Akan tetapi, Allah swt tetapi makna yang dikehendaki dari perkataan di atas adalah bahwa jika manusia yang paling saleh dari seluruh keturunan Adam adalah Muhammad, dan penciptaannya merupakan tujuan dan hikmah terbesar bila dibanding dengan penciptaan makhluk lainnya, maka berarti bahwa kesempurnaan penciptaan Allah swt dan puncak keutamaannya hanya tercapai dengan penciptaan Muhammad saw. Demikianlah yang diuraikan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Fatawa.
 Analisis dan hasil kajian Ibnu Taimiyah yang dilupakan para pengikutnya:  Uraian selanjutnya merupakan hasil kajian beliau yang raib dari pengetahuan para pendukungnya yang menjelaskan tentang bukti-bukti kebenaran tawassulnya Nabi Adam, yakni bukti ketiga dan keempat, selain dua bukti di atas. Juga mengenai Khushushiyyah (keistimewaan dan kekhususan) yang dimiliki Rasulullah saw. Dalam persoalan ini Ibnu Taimiyah berkomentar, “Sesungguhnya pembicaraan ini ada segi-segi kebenarannya”.  
 Bukti Ketiga : Ibnu Mundzir didalam buku tafsirnya meriwayatkan hadis dari Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali ra : “Sewaktu Nabi Adam melakukan kesalahan, ia benar-benar susah, kecewa dan menyesal. Datanglah malaikat Jibril kepadanya seraya berkata, “Hai Adam! Maukah Anda saya tunjukkan pintu taubatmu, sehingga Allah swt akan menerima taubatmu ?”. Nabi Adam menjawab, “Tentu saja aku mau, wahai Jibril !”. Malaikat Jibril berkata, “Bangkitlah dan carilah tempat untuk mermunajat kepada Tuhanmu. Muliakanlah Dia, karena tidak ada yang lebih Dia sukai kecuali ungkapan puji-pujian”. Beliau bertanya, “Bagaimana caranya, wahai Jibril!”. Jawab Jibril, “Bacalah doa dzikir ini
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَ يُمِيْتُ وَ هُوَ حَيُّ لَا يَمُوْتُ, بِيَدِهِ الْخَيْرُ كُلُّهُ, وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dialah Yang Menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup, tidak   akan mati. Dalam genggaman Kekuasaan-Nya lah seluruh kebaikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu
Setelah itu, Anda akui semua kesalahanmu. Kemudian diteruskan membaca doa :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ, لَا اِلَهَ إِلاَّ اَنْتَ, رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَ عَمِلْتُ السُّوْءَ, فَاغْفِرْ لِي , إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا اَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِـجَاهِ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَ كَرَامَتِهِ عَلَيْكَ, أَنْ تَغْفِرَ لِي خَطِيْئَتِي.
Maha Suci Engkau, Ya Allah dan dengan segala puji bagi-Mu. Tiada tuhan selain Engkau. Ya Rabb ! Sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan telah melakukan kejelekan. Karena itu, ampunilah aku. Karena tiada yang mampu memgampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Ya Allah ! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan kehormatan Muhammad, hamba-Mu, dan berkat kemuliaannya di sisi-Mu, kiranya Engkau berkenan memaafkan segala kesalahanku”.
 Selanjutnya Nabi Adam melaksanakan apa yang diperintahkan malaikat Jibril tersebut. Kemudian Allah swt berfirman kepadanya, “Hai Adam! Siapa yang mengajarimu ?”. Beliau menjelaskan, “Ya Rabb! Sewaktu Engkau meniupkan ruh kedalam jasadku, lalu aku menjadi hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Aku mampu melihat, mendengar dan berfikir. Saat itu aku melihat ke atas tiang-tiang penyanggah arasy dan di sana tertulis : 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ
Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya. Muhammad utusan Allah”.
Sementara tidak terlihat nama seorang malaikat Muqarrabin pun yang disandingkan dengan Nama-Mu, dan juga tiada nama salah seorang Nabi dan Rasul selain nama Muhammad, sehingga tahulah aku sekarang, bahwa dia merupakan makhluk-Mu yang termulia” Selanjutnya Allah swt berfirman kepadanya, “Kamu benar! Taubatmu sekarang Aku terima dan dosa-dosamu Aku maafkan”. (Ad-Durrul Mantsur, karya As-Suyuthy, juz 1; hal. 146).
Muhammad bin Ali bin al-Husain adalah ayahnya Ja’far al-Baqir. Beliau salah seorang tabi’in yang sangat “tsiqah” (dapat dipercaya) dan menjadi pemimpin mereka. Enam Imam ahli hadis meriwayatkan hadis darinya. Cerita di atas juga diriwayatkan dari Ja’far bin Sa’id ra, Ibnu Umar ra, dan sahabat-sahabat lainnya.
Bukti Keempat : Abu Bakar al-Ajiri menjelaskan tentang tawassulnya Nabi Adam as didalam kitab Asy-Syari’ah : ”Bercerita kepada kami Harun bin Yusuf at-Tajir; bercerita kepada kami Abu Marwan al-Usmany; bercerita kepada kami Abu Usman al-Khalil, dari Andurrahman bin Abi al-Zanad, dari ayahnya, bahwa ia berkata tentang kalimat-kalimat doa yang menyebabkan Allah swt menerima taubatnya Nabi Adam as. Doa yang beliau baca adalah : “Allahumma inni as-aluka bihaqqi Muhammadin ‘alaika …” Allah swt berfirman kepada Nabi Adam, “Apa yang Anda ketahui tentang nama Muhammad?”. Beliau menjawab, “Ya Rabb ! Sewaktu aku mengangkat kepalaku ke atas, aku melihat sebuah tulisan di atas arasy-Mu yang berbunyi La ilaha illallah. Muhammadur Rasulullah. Sehingga tahulah aku sekarang, bahwa Muhammad adalah makhluk-Mu yang paling mulia”.
Atsar di atas bila dikombinasikan dan dihubungkan dengan hadisnya Abdurrahman bin Zaid akan semakin memperkuat kebenaran tawassul-nya Nabi Adam as kepada Allah swt dengan perantaraan “Nama” Nabi Muhammad saw.


2. Surga Terlarang  Bagi Para Nabi Sebelum Dimasuki Nabi Muhammad
 
Ini merupakan contoh penghormatan Allah swt kepada diri Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang pernah dijelaskan didalam sebuah hadis Nabi dari Umar bin Khatthab ra. Rasulullah saw bersabda, “Surga diharamkan atas sekalian para Nabi sampai aku memasukinya terlebih dahulu dan diharamkan pula atas semua umat manusia sampai ummatku memasukinya terlebih dahulu.” (HR At-Thabrany dalam kitab Al Ausath). Al-Haitamy berkomentar bahwa sanadnya hasan. (Majma’ al-Zawaid juz 10; hal. 69).


3. Hubungan alam semesta dengan nama Nabi Muhammad.
Di antara wujud penghormatan dan pemuliaan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw adalah tersebarnya nama Nabi Muhammad saw di surga. Ka’ab al-Akhbar mengatakan, “Sesungguhnya Allah swt menurunkan tongkat sebanyak jumlah para Nabi dan Rasul kepada Nabi Adam as. Kemudian beliau mendatangi putranya, Syits, seraya berkata : ‘Hai anakku! Engkau adalah penggantiku setelah aku wafat. Ambillah tongkat ini dengan penuh ketakwaan dan ikatan agama yang kuat. Setiiap kamu berdzikir menyebut nama Allah, sebut pula nama Muhammad untuk mengiringi Nama-Nya. Karena aku pernah melihat namanya tertulis di atas tiang-tiang penyanggah ‘arasy sewaktu aku masih berwujud antara ruh dan jasad. Aku menjelajahi semua sudut langit, tidak ada satu tempat pun melainkan di atasnya tertulis nama Muhammad. Tuhanku menempatkanku di sorga, dan akun tidak melihat satu pun istana, gedung, dan kamar-kamarnya melainkan tertulis di atasnya namanya. Sunguh aku melihat namanya tertulis di atas bagian dada para bidadari, di atas daun pohon “thuba” (khuldi), daun pintu “Sidratul Muntaha”, sudut-sudut tirai penutup “hijab”, dan di antara mata para malaikat. Oleh karenanya, perbanyaklah menyebut nama Muhammad, sebab para malaikat selalu menyebut namanya setiap saat’. (Al-Mawahib al-Laduniyyah, juz 1; hal. 186). Az-Zarqani memberikan komentarnya, “Atsar tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Asakir”.
Ibnu Taimiyah menyebutkan khabar yang serupa dengan atsar di atas, yang menjelaskan bahwa Allah swt  menuliskan nama Nabi Muhammad di atas arasy, juga di atas pintu-pintu, kubah dan dedaunan sorga. Selain itu, masih banyak lagi atsar lainnya yang sesuai dan memperkuat kedudukan hadis-hadis tawassul di atas.
Ibnu al-Jauzy meriwayatkan dari Maisarah ra,  pernah ditanyakan kepada Rasulullah saw  : “Ya Rasulullah !  Sejak kapan Anda menjadi Nabi ?” “Sejak Allah swt menciptakan bumi. Dia lalu menuju ke langit dan membentangkannya menjadi tujuh lapis, kemudian Dia menciptakan ‘arasy dan menuliskan kalimat Muhammadurrasulullah, Khatamul Ambiya’ di atas tiang penyanggahnya. Dia menciptakan sorga tempat tinggal Nabi Adam dan Hawa’, lalu menuliskan namaku di atas pintu-pintu, dedaunan, istana, gedung dan kamar-kamarnya. Saat itu Nabi Adam dalam keadaan berupa antara ruh dan jasad. Sewaktu Allah swt menghidupkannya, ia melihat ke arah ‘arasy dan dilihatnya namaku. Kemudian Allah swt memberitahukannya bahwa Muhammad adalah adalah pemimpin anak-anak keturunannya. Setelah Iblis menipu dan menggelincirkan Nabi Adam dan Hawa’, keduanya lalu bertaubat dengan perantaraan menyebut namaku”. (Al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, juz 2; hal. 150)
Berdasarkan hadis-hadis mengenai tawassulnya Nabi Adam melalui perantaraan menyebut nama Nabi Muhammad saw tersebut dapatlah diambil suatu pemahaman : inti dari sahnya tawassul antara lain adalah bahwa orang yang dijadikan sarana tawassul haruslah orang yang memiliki kedudukan yang terpuji, terhormat lagi berderajat tinggi di hadapan Allah swt , seperti para Nabi dan Rasul, khususnya Nabi Muhammad saw, ulama, auliya dan kaum shalihin lainnya. Baik mereka itu masih hidup maupun sesudah wafatnya.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah diambil suatu pemahaman bahwa pendapat yang menyatakan : “Tawassul dengan perantaraan seseorang tidak sah kecuali semasa masih hidupnya di dunia” adalah pendapat orang yang menurutkan hawa nafsu dan tidak memperoleh hidayah Allah swt.

4. Kesimpulan Derajat Hadis Tawassul.
 Pada prinsipnya, hadis tawassulnya Nabi Adam di atas berderajat shahih  disertai dengan pembuktian dan argumentasi yang kuat, serta sering dinukil oleh kebanyakan ulama terkenal, para imam hadis, para hafizh (penghafal hadis) dan pakar hadis yang tidak perlu diragukan lagi reputasi, status dan keahliannya di bidang hadis. Bahkan mereka adalah orang-orang yang jujur lagi terpercaya dalam memelihara dan mengemban sunnah nabawiyyah, seperti Al-Hakim, as-Suyuthi, as-Subky dan al-Bulqiny.
Al-Baihaqy menukil hadis tawassul tersebut didalam kitabnya yang dinilai tidak pernah memuat hadis palsu, yang dikomentari oleh Adz-Dzahaby : “Ambillah kitab Al-Baihaqy, karena seluruh isinya merupakan petunjuk dan cahaya” . Demikianlah yang tertera didalam kitab Al-Mawahib al-Laduniyyah dan kitab-kitab lainnya.
Sementara itu, Ibnu Katsir menukil hadis tersebut didalam kitab Al-Bidayah  yang oleh Ibnu Taimiyah dijadikannya sebagai saksi atau penguat didalam kitabnya Al-Fatawa.
Di antara para ulama adalah yang berselisih pendapat tentang status hadis ini, lalu ditolaknya, dan sebagian yang lain menerimanya. Hal ini lumrah dan tidak aneh, karena sebagian hadis Nabi memang tidak lepas dari adanya perbedaan pendapat, bahkan malah lebih besar dan hebat, serta kritikannya lebih tajam daripada terhadap hadis tawassul ini. Oleh sebab itu, lahirlah karya-karya besar berupa kitab-kitab yang memuat istidlal, komentar, rujukan dan lainnya.
Namun yang perlu kita ingat adalah bahwa kitab-kitab tersebut tidak ditemukan adanya kalimat atau kata-kata yang menjurus kepada tuduhan “syirik”, “kufur”, “sesat”, “bid’ah”, dan “murtad”, hanya disebabkan perbedaan pendapat dalam menentukan status derajat suatu hadis, termasuk terhadap hadis tawassulnya Nabi Adam.


5. Tawassulnya orang Yahudi dengan Nabi akhir zaman
 
Allah swt berfirman :
وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ  عَلَى الْكَافِرِينَ(89)
Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi saw) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”. (QS Al-Baqarah,2 : 89)
Al-Qurthuby menafsirkan potongan ayat : “Dan setelah datang kepada mereka”, maksudnya adalah orang-orang Yahudi. “Sebuah kitab”, maksudnya adalah Al-Qur’an. “Dari  Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka”, maksudnya dari Allah yang membenarkan kitab Taurat dan Injil yang membenarkan kabar kepada mereka tentang akan datangnya seorang Nabi akhir jaman, yakni Nabi Muhammad saw, “padahal mereka sebelumnya biasa memohon (kedatangan Nabi tersebut) untuk mendapatkan kemenangan ….”
Ibnu Abbas rs mengatakan, “Orang Yahudi Khaibar pernah memerangi orang kafir Ghathafan. Setelah berperang dengan mereka, kaum Yahudi kalah dan lari, lalu berdoa :
إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي وَعَدْتَنَا أَنْ تُخْرِجَهُ فِيْ أَخِرِ الزَّمَانِ أَنْ تَنْصُرَنَا عَلَيْهِمْ
“Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu dengan perantaraan kebenaran seorang Nabi yang ummy (buta huruf) yang pernah Engkau janjikan kepada kami untuk dimunculkan pada akhir jaman. Kiranya Engkau menolong kami untuk mengalahkan mereka…”
Ibnu Abbas mengatakan lagi, bahwa kaum Yahudi ketika bertemu dengan kaum kafir Ghathafan, mereka berdoa seperti bacaan di atas, sehingga musuhnya lari berantakan. Namun setelah Nabi yang mereka idam-idamkan tersebut, yakni Nabi Muhammad saw,  benar-benar diutus, mereka mengingkari kenabian beliau saw. Karena itu, maka turunlah ayat :
   وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا
… padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang kafir…” (QS Al-Baqarah,[2]: 89)

dan seterusnya sampai akhir ayat. (Tafsir Al-Qurthuby, juz 2; hal: 26-27).



_____________________________________________________________
Sumber : diterjemahkan dari kitab "مفاهيم يجب ان تصحح".