Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

PYPD - 40. KEKHUSUSAN PARA NABI DALAM KEHIDUPAN BARZAKHIYAH *)



Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki



Para Nabi dan Rasul memiliki keistimewaan dan kekhususan dalam kehidupan  di alam barzakh, yang tidak dimiliki oleh seluruh manusia pada umumnya di alam yang sama. Meskipun sebagian manusia memiliki keistimewaan dan kekhususan yang mirip dengan mereka.



KESEMPURNAAN KEHIDUPAN PARA NABI DAN RASUL

Kehidupan barzakhiyah adalah kehidupan yang hakiki, di mana para Arwah mampu mendengar, melihat, merasakan dan saling mengenal antar sesama, baik dia seorang mukmin maupun kafir. Hak untuk hidup, menerima rizki dan kenikmatan, serta kesempatan untuk memasuki calon surganya bukanlah monopoli para syuhada’ saja, sebagaimana yang disimpulkan dari beberapa hadis Nabi. Dan ini merupakan keyakinan dan akidah yang dipegangi para Imam dan para ulama Ahlus Sunnah. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kehidupan para Nabi dan Rasul di alam barzah tentu lebih mulia, lebih sempurna dan lebih agung daripada yang dialami oleh selain mereka.

Dalam kehidupan di alam dunia ini, manusia memiliki tingkatan, derajat dan martabat yang berbeda. Di antara mereka ada yang berada dalam tingkatan “mati dalam hidup”. Mereka memang masih hidup, akan tetapi mereka bagaikan orang yang mati, disebabkan  hidupnya tidak bermanfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk yang lain. Allah swt menyinggung keadaan mereka tersebut didalam firman-Nya :

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(179)

“…mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS Al-A’raf,[7] : 179)

Diantara mereka ada yang hidup dalam suatu derajat seperti yang dilukiskan Allah swt dalam firman-Nya :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(62)

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus,[10] : 62).

Di antara mereka lagi ada yang hidup di dunia seperti yang digambarkan Allah swt dalam firman-Nya berikut ini :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(1). الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2). وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ(3). وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ(4). وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5). إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6). فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7). وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ(8). وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(9). أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10). الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11).
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Mukminun,[23] : 1-11).

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ(16). كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ(17). وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ(18)
Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzariyat,[51] : 16-18)

Demikian pula didalam kehidupan di alam barzakh, para arwah manusia hidup dalam tingkat, derajat dan martabat yang berbeda, sebagaimana yang digambarkan Allah swt didalam firman-Nya :

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا(72)
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al-Isra’,[17] : 72).

Adapun para Nabi dan Rasul, sebenarnya kehidupan mereka, rizki yang mereka terima, pengenalan mereka, pendengaran mereka, pengetahuan dan perasaan mereka jelas jauh lebih sempurna, lebih tinggi dan lebih mulia daripada selain mereka. Hal ini beralasan dengan firman Allah swt yang menjelaskan tentang hak-hak yang diterima para syuhada’ :

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ (169). فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (170). يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ (171). الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (172)
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS Ali Imran,[3] : 169-172)

Jika yang dinamakan “Hidup” adalah tetapnya Ruh, sementara yang namanya Ruh tidak mengalami kerusakan, baik ruh para syuhada’  maupun selainnya. Dengan demikian, maka tidak benar jika pujian dan kemasyhuran merupakan hak istimewa yang hanya dimonopoli oleh para Syuhada’. Orang-orang selain mereka pun juga berhak mendapatkan hal yang serupa, karena kedua golongan tersebut adalah sama-sama manusia yang berbentuk Ruh dan sama-sama hidup di alam barzah, tentu saja kedunya akan mendapatkan hak yang serupa. Pandangan seperti inilah yang benar, sebagaimana yang dikemukakan para pakar semacam Ibnul Qayyim didalam bukunya, Ar-Ruh. Hanya saja, wujud keistimewaan hak (dipuji dan terkenal) yang diperoleh para syuhada’ jelas lebih banyak daripada yang diperoleh selainnya. Jika tidak dalam pengertian seperti itu, maka sia-sialah penyebutan “Hidupnya para syuhada’” didalam ayat di atas. Bahkan Allah swt sendiri melarang kita untuk mengatakan bahwa mereka sudah mati :

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ(154)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” ( QS Al-Baqarah,[2] : 154).

Dari uraian di atas dapat kita tarik suatu pemahaman bahwa para syuhada’, pada hakekatnya, adalah masih hidup, yakni hidup di alam barzakh. Demikian pula orang-orang mati selain mereka juga mengalami kehidupan di alam barzakh. Hanya saja tingkat kehidupan para Syuhada’ jauh lebih sempurna dan lebih mulia daripada  selainnya.

Banyak nash-nash yang secara lahiriah menjelaskan bahwa Arwah  para syuhada’ mendapatkan rizki, merasakan kenikmatan, berkesempatan mengunjungi calon surganya, bahkan memakan buah-buahan surga. Arwah mereka dapat merasakan kenikmatan makanan dan minuman secara sempurna, dengan perasaan dan kelezatan yang sempurna pula. Mereka mampu mendengar suatu pembicaraan dan mampu memahami maksud pembicaraan, seperti yang dijelaskan didalam sebuah hadis Nabi : “Sesungguhnya Allah swt berkata kepada mereka: ‘Apa yang kalian gemari?’ Mereka jawab: ‘Begini dan begitu’. Sehingga terjadilah dialog antara Allah swt dan mereka. Mereka memohon dikembalikan lagi ke dunia, agar bisa mengikuti Jihad fi Sabilillah lagi. Mereka juga memohon agar Allah swt menyampaikan suatu risalah atau missi mereka untuk ditujukan kepada teman-temannya di dunia yang intinya menjelaskan betapa mulianya Jihad fi Sabilillah sehingga menyebabkannya dimuliakan Allah swt. Maka Allah swt berfirman kepada mereka: ‘Aku akan menyampaikan pesan dan misi kalian’”.

 Arwah para Syuhada’ saja memperoleh penghormatan dan kemuliaan yang begitu tinggi di sisi Allah swt, apalagi arwah para Nabi dan Rasul, tentu mereka memperoleh lebih dari apa yang diperoleh para syuhada’, disebabkan dua  alasan :

Pertama. Martabat yang diberikan Allah swt kepada para syuhada’ merupakan penghormatan-Nya kepada mereka. Akan tetapi, tiada martabat yang lebih tinggi selain martabatnya para Nabi dan Rasul. Mustahil para syuhada’ memperoleh keistimewaan dan kesempurnaan, sementara para Nabi dan Rasul tidak, terutama kesempurnaan dalam hal kedekatannya dengan Allah swt, memperoleh derajat, kenikmatan dan keramahan dari Allah swt.

Kedua. Martabat yang diperoleh para syuhada’ merupakan hasil jerih payahnya dalam mengikuti Jihad fi Sabilillah. Sementara itu, Nabi Muhammad saw adalah orang yang mengajarkan atau memberi petunjuk kepada kita dan kepada kepada mereka sewaktu di dunia tentang betapa pentingnya berjihad fi Sabilillah, lalu mengajak mereka berjihad.

Beliau saw bersabda : “Barangsiapa yang merintis suatu jalan menuju kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala (atas usaha rintisannya itu) dan pahala akibat dari orang yang mengikutinya, hingga hari kiamat”.  Pada kesempatan yang lain beliau saw bersabda lagi : “Barangsiapa yang mengajak orang ke jalan hidayah, maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala yang diperoleh orang yang mengikuti ajakannya, dan tidak dikurangi sedikit pun”.  Dan masih banyak lagi hadis shahih yang berkaitan dengan persoalan ini.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa setiap pahala yang diperoleh para syuhada’, juga akan diperoleh oleh Rasulullah saw, karena mereka menjadi syuhada’ adalah berkat usaha, petunjuk, ajakan, bimbingan dan dorongan beliau saw untuk mengikuti Jihad fi Sabilillah. Dengan demikian, beliau saw pun akan memperoleh pahala yang sama seperti yang diperoleh para syuhada’ di alam barzakh, meskipun beliau saw tidak mati syahid. Bahkan pahala beliau saw jauh lebih besar dan agung dari pada yang mereka terima, disebabkan keutamaan beliau saw terhadap mereka.

Kehidupan barzakhiyah para Nabi dan Rasul, khususnya Nabi Muhammad saw, jelas lebih agung, lebih mulia dan lebih sempurna daripada yang pernah digambarkan oleh orang-orang  yang bodoh lagi dungu. Mereka menyangka bahwa kehidupan barzakhiyah sama persis seperti kehidupan duniawiyah. Para arwah makan, minum, pergi ke kamar kecil untuk berak dan kencing, dan lain-lain, persis seperti aktifitas sehari-hari kita di dunia. Para arwah keluar dari kuburnya untuk menghadiri majlis dzikir, pengajian, semaan Al-Qur’an, berbagi suka dan duka dengan masyarakat atau keluarga yang masih hidup, lalu mereka pulang ke kuburannya, yakni liang lahad yang sempit, yang berukuran kurang lebih 1 x 2 meter, pengap dan gelap. Kehidupan barzakhiyah sama sekali tidak seperti yang digambarkan orang-orang bodoh itu. Kehidupan barzakhiyah para Nabi dan Rasul yang hakiki adalah kehidupan yang serba sempurna dan lengkap. Mereka sempurna perasaannya, pengetahuannya maupun pengenalannya; suatu kehidupan yang serba baik, lengkap, indah serta dalam suasana penuh bacaan doa, tasbih, tahlil, tahmid dan shalat.


PARA NABI MELAKUKAN SHALAT DAN IBADATAN LAINNYA DI KUBURNYA 

Para Nabi didalam alam barzakh melakukan shalat, dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan shalat khayalan. Beberapa hadis Nabi menjelaskan tentang keadaan mereka itu. Diantaranya hadis yang bersumber dari Anas bin Malik ra, yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Para Nabi itu hidup didalam kuburnya. Mereka melakukan shalat”. (HR Abu Ya’la dan Al-Bazzar didalam kitab Majma’ a-Zawaid, juz 8, hal. 211). Imam Al-Baihaqy juga mengetengahkan hadis tersebut didalam Risalah-nya.

Didalam riwayat yang lain, dari Anas bin Malik ra dituturkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya para Nabi tidak meninggalkan tempat didalam kuburnya setelah empat puluh malam, akan tetapi mereka terus melakukan shalat di hadapan Allah swt sampai terompet sangkakala hari kiamat dibunyikan”.

Al-Baihaqy mengatakan, “Jika teks hadis tersebut benar, maka yang dimaksudkannya – Wallaahu a’lam – adalah mereka selalu melakukan shalat di hadapan Allah swt”. Dia mengatakan lagi, bahwa kehidupan mereka di alam barzah banyak dijelaskan didalam beberapa hadis shahih seperti sabda Rasulullah saw : “Aku melewati Nabi Musa as (pada waktu isra’-mi’raj) yang sedang melakukan shalat di kuburnya”. (HR Al-Baihaqy)

Hadis yang lain menceritakan : “Seperti yang engkau ketahui, bahwa aku berada di tengah jamaah para Nabi. Aku menyaksikan Nabi Musa sedang melaksanakan shalat. Aku melihat Nabi Isa juga melakukan shalat, wajahnya mirip dengan ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafy.  Dan aku melihat Nabi Ibrahim shalat, wajahnya mirip dengan teman kalian (yakni mirip Rasulullah saw sendiri). Setelah tiba waktu shalat jamaah, akulah yang menjadi Imamnya. Selesai shalat, malaikat Jibril mengatakan kepadaku: ‘Hai Muhammad! Ini malaikat Malik, penjaga neraka. Ucapkan salam kepadanya’. Kemudian aku menoleh kepadanya, ternyata ia mendahuluiku mengucapkan salam kepadaku”.(HR Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Anas bin Malik ra, didalam kitab Shahih Muslim, juz 2, hal. 268. Juga diketengahkan oleh Abdurrazzaq dalam bukunya, Al-Mushannaf, juz 3, hal. 577).

Al-Baihaqy didalam bukunya, Ad-Dalailun Nubuwwah, mengetengahkan hadis Shahih dari Sulaiman at-Taimy dan Tsabit al-Banany, dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Aku Temui Nabi Musa as pada malam Isra’ dan Mi’raj. Dia berada di bukit pasir merah dalam keadaan berdiri melaksanakan shalat didalam kuburnya”.  Dan hadis ini juga diketengahkan oleh Imam Muslim didalam Shahih-nya juz 2; hal. 268.

 Tidak dapat diingkari bahwa Rasulullah saw memperoleh keringanan dari kewajiban menjalankan shalat 50 waktu menjadi 5 waktu dalam sehari semalam adalah berkat usulan dan nasehat Nabi Musa as. Meskipun Nabi musa as sudah wafat, namun dia dapat menjadi penyebab Rasulullah saw, dan juga umat Islam, mendapatkan keuntungan, yakni keringanan menjalankan shalat. Semula Rasulullah saw dibebani menjalankan perintah shalat 50 waktu, kemudian beliau musyawarahkannya dengan Nabi Musa dan dia menyarankan : “Mintalah kepada Tuhanmu keringanan, karena umatmu tidak akan mampu melakukannya” , dan seterusnya sampai beliau saw mendapatkan keringanan shalat 5 waktu.

Yang menjadi pertanyaan kita adalah, Apakah kembalinya beliau saw menghadap Allah swt untuk memohon keringanan tersebut dalam pengertian yang sesungguhnya ataukah khayalan?  Apakah peristiwa tersebut terjadi pada diri beliau saw dalam keadaan jaga/sadar ataukah di tengah tidurnya? Apakah peristiwa tersebut benar ataukah bohong? Apakah Nabi Musa saat itu mati ataukah hidup sehingga dia bisa memberi saran kepada beliau saw agar meminta keringanan kepada Allah swt ?

 Al-Hakim mengetengahkan hadis shahih dari jalan Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw pernah lewat di suatu lorong jalan menuju ke satu bukit, kemudian bertanya kepada para sahabat : “Apa ini?”. Jawab para sahabat : “Lorong jalan menuju ke bukit ini dan itu!”. Beliau saw bersabda : “Seakan-akan aku melihat Nabi Yunus as yang sedang berada di atas ontanya yang tali kekangnya terbuat dari tali sabut, ia berpakaian jubah dari bulu domba, seraya membaca Talbiyah : Labbaikaalloohumma labbaik”. (Tersebut didalam kitab Ad-Durrul Mantsur, juz 4, hal. 234).

Riwayat yang lain menjelaskan bahwa Rasulullah saw pernah melewati daerah Wady al-Arzaq, kemudian bersabda : “Sepertinya aku melihat Nabi Musa as yang turun dari Tsaniyyah (Lorong jalan menuju ke bukit) seraya membaca Talbiyah”.  Kemudian beliau saw melewati lorong jalan menuju ke bukit Harsya dan bersabda : “Sepertinya aku melihat Nabi Yunus bin Matta di atas onta yang berbulu kemerah-merahan . Dia berpakaian jubah dari wol dan tali kekangnya dari sabut, sambil membaca Talbiyah terus menerus”.

Didalam hadis yang lain juga diceritakan sabda beliau saw : “Sepertinya aku melihat Nabi Musa yang sedang meletakkan kedua tangannya untuk menutupi kedua telinganya”.

Semua hadis di atas shahih dan sudah kami jelaskan di muka bahwa selama dalam perjalanan Isra’-Mi’raj, Rasulullah saw menjadi imam shalat jamaah, di mana yang menjadi makmumnya adalah para Nabi, seperti Nabi Musa, Isa, Yunus dan lain-lain. Peristiwa tersebut tidak dapat dikatakan sebagai peristiwa yang dialami beliau saw dalam keadaan mimpi di tengah tidurnya. Sesungguhnya kata  "أَرَانِـي" (Allah memperlihatkan kepadaku) mengisyaratkan peristiwa mimpi di tengah tidur sedangkan peristiwa Isra’-Mi’raj yang shahih, sebagaimana yang disepakati para ulama salaf dan khalaf adalah terjadi dalam keadaan Yaqazhah (terjaga, tidak tidur). Kalau pun benar bahwa peristiwa tersebut dialami beliau saw di saat mimpi dalam tidurnya, maka mimpinya para Nabi adalah mimpi yang Haq (benar).



KEUTUHAN JASAD PARA NABI

Hadis dari Aus bin Aus ra menjelaskan, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya hari-harimu yang paling utama adalah hari jum’at. Pada hari itulah Nabi Adam as diciptakan dan diwafatkan. Dan di hari itu pula terompet sangkakala kiamat mulai dibunyikan dan alam semesta hancur berantakan. Oleh karena itu, perbanyaklah kalian bershalawat kepadaku di hari jum’at, karena shalawat tersebut akan disampaikan Allah swt kepadaku”. Di antara sahabat ada yang bertanya : “Bagaimana mungkin bacaan shalawat kami akan sampai kepada engkau, sementara jasad engkau (setelah wafat nanti) bakal rusak”. Beliau saw menjawab : “Sesungguhnya Allah swt mengharamkan bumi merusakkan jasad para Nabi”.

Hadis tersebut diketengahkan oleh Sa’id bin Manshur, Ibnu Syaibah, dan Imam Ahmad bin Hambal didalam Musnad-nya, serta Ibnu Abi ‘Ashim, Abu Dawud, An-Nasaiy dan Ibnu Majah didalam kitab-kitab “Sunnah” mereka. Juga diriwayatkan At-Thabrany didalam Mu’jam-nya, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim didalam kitab-kitab “Shahih” mereka. Sementara Al-Baihaqy meriwayatkannya didalam bab “Hayatul Anbiya’ wa Syu’abul Iman” didalam beberapa kitab karangannya.

Ibnul Qayyim mengatakan didalam bukunya, “Ar-Ruh”, yang dinukil dari pendapat Abdullah al-Qurthuby, bahwa Hadis-hadis shahih dari Rasulullah saw  menjelaskan bahwa : 1) bumi tidak akan menghancurkan jasad para Nabi;  2) Rasulullah saw berkumpul dengan para Nabi pada malam Isra’-Mi’raj di Baitul Maqdis dan di langit, terutama bertemu dengan Nabi Musa as; 3) tak seorang muslim pun yang mengucapkan Salam kepada Nabi Muhammad saw melainkan Allah swt akan mengembalikan ruhnya kedalam jasadnya, sehingga beliau saw dapat mengembalikan ucapan salam kepada orang itu. Kesemuanya itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan pernyataan “Para Nabi sudah wafat” adalah dalam pengertian   mereka telah menghilang dari pandangan mata kita, disebabkan karena kita tidak mampu melihat mereka dengan mata kepala, namun pada hakekatnya mereka benar-benar “maujud” dan “hidup”, yakni hidup di alam barzah. Sama halnya dengan keberadaan para malaikat, meskipun kita tidak mampu melihat wujud mereka dengan mata kepala, akan tetapi mereka itu benar-benar hidup dan maujud.

Syaikh Muhammad as-Safariny al-Hambali mengemukakan pendapatnya Al-Qurthuby didalam kitabnya, Syarh Aqidah Ahlissunnah : “ Abdullah Al-Qurthuby pernah mengatakan, bahwa gurunya yang bernama Ahmad bin Umar al-Qurthuby menjelaskan: “Mati tidak sama dengan Tiada, atau Mati tidak berarti benar-benar menjadi Tiada. Akan tetapi, Mati pada dasarnya adalah suatu perpindahan dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil syar’iy, bahwa para syuhada’ (setelah kematiannya di medan perang) benar-benar hidup di sisi Tuhannya dalam keadaan merasakan kenikmatan, rizki dan kesenangan”

Jika para syuhada’ (yang jelas-jelas sudah gugur/mati) saja dikatakan “masih hidup di sisi Tuhannya”, apalagi para Nabi, tentu mereka lebih dari itu. Imam Al-Qurthuby menuturkan bahwa jasad para Nabi utuh dan tidak akan rusak berdasarkan hadis shahih dari Jabir ra yang menjelaskan bahwa bapaknya dan ‘Amr bin Jamuh adalah dua orang sahabat Nabi yang mati syahid pada waktu perang Uhud. Mereka berdua dikubur didalam satu lubang. Setelah melewati waktu kurang lebih 45 tahun, kuburannya dibongkar. Ternyata jasad mereka masih utuh dan bekas lukanya pun tak berubah, tetap seperti waktu terbunuh.

Al-Imam Al-Hujjah Abu Bakar bin al-Husain al-Al-Baihaqy menulis sebuah Risalah yang secara khusus mengkaji tentang “Kehidupan para Nabi dan Keutuhan Jasadnya”, dengan menyebutkan sejumlah hadis untuk mendukung pendapatnya. Demikian pula Jalaluddin as-Suyuthy.

 

==============================================

*) Sumber : Diambil dari salah satu bagian dari kitab :
Judul Asli
: مفـاهـيم يجب أن تـصحح
Penulis
: Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Alih Bahasa
: Achmad Suchaimi
Judul Terjemahan
: Pemahaman Yang Perlu Diluruskan (PYPD)


Jumat, 19 Juli 2013

PYPD - 38. INGIN MENDAPATKAN KEBERKAHAN DARI ROSULULLOH SAW *)



Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki


Kita mendengar banyak orang yang berkata bahwa mereka ingin mendapatkan keberkahan dari Rasulullah saw.  Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang kenyataan tersebut, lalu ia jawab bahwa perkataan mereka tersebut bisa dibilang “benar” dan juga bisa “salah”.

Dikatakan “benar” jika yang mereka maksudkan itu adalah bahwa Rasulullah saw telah memberi arahan, bimbingan, petunjuk, berita serta memerintahkan agar kita selalu melakukan amar makruf dan nahi munkar. Posisi kita di sini adalah mengharap keberkahan dari beliau saw dengan cara melakukan, mengikuti dan mentaati perintah beliau saw tersebut, sehingga kita akan mendapatkan kebaikan darinya. Sama halnya dengan penduduk Madinah yang mendapatkan keberkahan dari beliau saw disebabkan keimanan dan ketaatan mereka, sehingga mereka mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Bahkan setiap kaum muslimin yang beriman dan taat kepada beliau saw pun juga akan mendapatkan keberkahan dari beliau saw, disebabkan keimanan dan ketaatan mereka itu, sehingga mereka akan mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Hanya saja, seberapa besar kebaikan dan keberkahan tersebut, tidak ada yang tahu kecuali Allah swt.

Atau yang mereka maksudkan dengan “keinginan untuk mendapatkan keberkahan dari Rasulullah saw” adalah bahwa dengan keberkahan doa beliau saw itu maka Allah swt menghilangkan kejelekan dan mereka berhasil memperoleh rizki dan pertolongan dari-Nya. Dengan demikian, hal ini dapat dibenarkan. Sebagaimana yang disinggung beliau saw didalam sabdanya : “Kalian tidak akan mendapatkan pertolongan dan rizki, melainkan dengan perantaraan kaum dhu’afa’ (kaum fakir miskin) di antara kalian, yakni sebab doa mereka, shalat mereka dan keikhlasan mereka”.

Allah swt terkadang mengurungkan siksa-Nya kepada kaum kafir dan orang yang durhaka di suatu kampung agar siksa-Nya itu tidak merembet atau mengenai kaum mukminin di situ atau biar tidak menimpa orang-orang yang sebenarnya tidak berhak disiksa. Dengan kata lain, keberadaan kaum mukminin di suatu tempat dapat mendatangkan keberkahan bagi seluruh penduduk di sekitarnya, meskipun mayoritas mereka adalah tidak beriman, sehingga mereka yang seharusnya mendapatkan siksaan Allah swt lalu tidak jadi terkena siksaan. Allah swt berfirman :

وَلَوْلَا رِجَالٌ مُؤْمِنُونَ وَنِسَاءٌ مُؤْمِنَاتٌ لَمْ تَعْلَمُوهُمْ أَنْ تَطَئُوهُمْ فَتُصِيبَكُمْ مِنْهُمْ مَعَرَّةٌ بِغَيْرِ عِلْمٍ لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ لَوْ تَزَيَّلُوا لَعَذَّبْنَا الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا(25)

  Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mu'min dan perempuan-perempuan yang mu'min yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih”. (QS Al-Fath : 25)

Ayat di atas secara ringkas menjelaskan, sekiranya di Makkah tidak ada kaum mukminin yang dhu’afa’ (lemah, fakir-miskin) yang hidup di tengah masyarakat kafir quraisy, tentu Allah swt sudah menurunkan adzab kepada kaum kafir di kota itu sejak dulu. Kehadiran kaum muslimin di Makkah mambawa keberkahan tersendiri bagi kaum Kafir, sehingga Allah swt urung menurunkan siksa-Nya kepada mereka.

 

Pada kesempatan yang lain Rasulullah saw bersabda : “Sekiranya tidak karena kaum wanita dan anak-anak kecil di suatu rumah, tentu sudah aku perintahkan agar shalat jamaah benar-benar ditegakkan, kemudian berangkatlah bersamaku beberapa orang lelaki yang membawa kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak shalat berjamaah bersama kami, lalu akan aku bakar rumah-rumah mereka”.

 

Demikian pula wanita yang hamil akibat perbuatan zinanya terhindar dari hukuman Rajam disebabkan keberkahan adanya janin yang ada didalam perutnya.
Nabi Isa as berkata :

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada” (QS Maryam,[19] : 31)

Keberkahan dari adanya para auliya’ dan kaum shalihin adalah disebabkan keberadaan mereka yang selalu memberikan kemanfaatan kepada semua makhluk, yakni ajakan mereka agar bertakwa dan kepada Allah swt, doa mereka dan rahmat yang diberikan Allah swt kepada mereka.  Allah swt urung menurunkan siksa-Nya kepada kaum kafir, munafiq, dan pendurhaka disebabkan di situ ada orang yang shalih adalah sesuatu yang benar adanya. Orang yang menginginkan sesuatu keberkahan dengan pemahaman seperti itu dapatlah dibenarkan.

Adapun ucapan atau keinginan mendapatkan keberkahan yang dinilai salah, tidak benar atau menyimpang adalah seperti seseorang menginginkan suatu keberkahan dengan cara-cara yang menjurus kepada perbuatan syirik. Misalnya suatu anggapan bahwa ia menjadi terhormat, mulia, kaya dan sejenisnya adalah disebabkan keberkahan orang mati yang ada didalam kuburan, meskipun orang mati tersebut selama hidupnya tidak taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Mencari keberkahan dengan cara semacam ini merupakan suatu kebodohan.

Rasulullah saw adalah Sayyidu Waladi Adam (tuan, pemimpin seluruh umat manusia) yang jenazahnya dimakamkan di Madinah. Namun penduduk Madinah tetap tertimpa musibah pembunuhan, perampokan dan intimidasi pada masa-masa setelah periode Khulafaurrasyidin. Hal ini disebabkan pada masa itu mereka banyak yang melakukan perbuatan bid’ah. Padahal  selama periode Khulafaurrasyidin, mereka tidak pernah mengalami peristiwa seperti itu. Bahkan Allah swt memelihara, melindungi dan memberi keamanan kepada mereka, disebabkan keimanan dan ketaatan mereka yang kuat. Apalagi para khalifah mendorong mereka agar meningkatkan ketakwaan dan ketaatan mereka. Maka dengan keberkahan mentaati perintah para Khalifah tersebut, serta keberkahan amal usaha Khulafaurrasyidin bersama-sama dengan mereka itulah, kemudian Allah swt memberikan pertolongan-Nya dan mengokohkan kedudukan mereka.

 Nabi Ibrahim telah wafat dan jenazahnya dimakamkan di kota Damaskus, toh para penduduknya tetap dilanda kekacauan dan kejahatan merejalela di sana sini. Adalah suatu kebodohan jika ada suatu anggapan bahwa orang mati yang dikubur di suatu kota atau desa dapat mendatangkan keselamatan bagi penduduknya. Demikian pula anggapan bahwa keberkahan dapat diterima oleh orang yang mensyirikkan Allah swt  dan orang yang tidak mentaati Allah swt dan Rasul-Nya. Misalnya persangkaan bahwa bersujud kepada selain Allah swt, mencium bumi dan sejenisnya dapat mendatangkan keberkahan atau kebaikan pada pelakunya, meskipun ia tidak pernah mentaati Allah swt dan Rasul-Nya; atau anggapan bahwa seseorang dapat memberikan syafaat kepadanya dan dapat memasukkannya ke surga, disebabkan kecintaannnya kepada orang itu . Kesemuanya itu merupakan perbuatan kaum musyrikin dan ahli bid’ah, dan apa yang mereka sangka tersebut adalah batil dan tidak boleh dipegangi.



IMAM AHMAD BIN HAMBAL BERTABARRUK DAN ADZ-DZAHABI MENDUKUNG

Abdullah bin Ahmad bin Hambal menceritakan : “Aku melihat ayahku, Ahmad bin Hambal, mengambil selembar rambut peninggalan Rasulullah saw , lalu menciumnya. Aku juga melihat  ayahku meletakkan rambut tersebut di atas matanya, setelah itu ia mencelupkannya kedalam air, kemudian airnya ia minum untuk pengobatan. Aku pernah melihat lagi ayahku mengambil sebuah mangkok peninggalan Rasulullah saw dan dicelupkannya kedalam air, lalu airnya ia minum. Ayah juga pernah meminum air zamzam untuk pengobatan dan mengusapkan air itu pada kedua tangan dan wajahnya”.

Saya tegaskan di sini, apakah masih ada orang yang mengingkari cara bertabarruk seperti yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hambal di atas? Abdullah bin Ahmad bin Hambal pernah bertanya kepada ayahnya mengenai orang-orang yang bertabarruk dengan cara menyentuh rumanah pada mimbar Rasulullah saw dan mengusap-usap Hajar Aswad. Imam Ahmad menjawab: “Menurut saya, hal itu tidak apa-apa”.

Pendapat Imam Ahmad bin Hambal dan perilakunya tersebut ternyata disetujui dan didukung oleh Adz-Dzahaby. Semoga Allah swt selalu melindungi kita semua dari perbuatan kaum khawarij dan ahli bid’ah. (Baca juga kitab Siyaru A’lam an-Nubala’, juz 11, hal. 812).



Penutup

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari beberapa Atsar dan Hadis Nabi di atas adalah bahwa Bertabarruk pada diri Rasulullah saw, petilasan, benda bekas peninggalan, dan apa saja yang berkaitan dengan Rasulullah saw, merupakan Sunnah Marfu’ah dan perbuatan terpuji yang disyariatkan. Hal ini ditunjukkan oleh tindakan dan perbuatan para tokoh sahabat yang diperkuat oleh tindakan Rasulullah saw sendiri. Bahkan suatu ketika beliau saw memerintahkan bertabarruk, dan pada kesempatan yang lain beliau saw mengisyaratkan tentang diperbolehkannya bertabarruk.

Berdasarkan nash-nash yang kami kutip di atas, nampak sekali kebohongan dari orang-orang yang beranggapan bahwa tidak seorang sahabat pun yang memiliki perhatian, kepedulian dan anggapan tentang pentingnya bertabarruk, selain Abdullah bin Umar. Bahkan Tabarruk yang dipraktekkan Abdullah bin Umar tersebut tidak seorang pun di antara sahabat yang menyetujuinya. Anggapan dan persangkaan mereka semacam itu menunjukkan kebodohan dan kebohongan mereka, sekaligus merupakan usaha mereka menutupi kenyataan dan kebenaran yang ada.

Sebenarnya banyak sekali sahabat, selain Ibnu Umar, yang mempraktekkan Tabarruk, dan menganggapnya sangat penting. Di antara mereka adalah Khulafaur Rasyidin, Ummu Salamah, Khalid bin Walid, Watsilah bin al-Asqa’, Salamah bin al-Akwa’, Anas bin Malik ra, Abdullah bin Salam, Ummu Sulaim, Usaid bin Hudhair, Sawad bin Ghaziyah, Sawad bin Amr, Abu Musa al-Asy’ary, Sufainah, Sarah, Malik bin Sinan, Asma’ binti Abu Bakar, dan juga dari kalangan ulama generasi sesudahnya seperti Imam Malik bin Anas beserta para gurunya di Madinah seperti Sa’id bin al-Musayyab dan Yahya bin Sa’id.

 

==============================================

*) Sumber : Diambil dari salah satu bagian dari kitab :
Judul Asli
: مفـاهـيم يجب أن تـصحح
Penulis
: Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Alih Bahasa
: Achmad Suchaimi
Judul Terjemahan
: Pemahaman Yang Perlu Diluruskan (PYPD)