Google+ Badge

Rabu, 17 Juli 2013

PYPD - 30. KEUTAMAAN MALAM MAULID NABI MUHAMMAD SAW *)




Oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki



Beberapan ulama menjelaskan di tengah pembahasannya mengenai kekhususan dan keistimewaan Rasulullah saw, bahwa malam Maulid Nabi saw lebih mulia daripada Lailatul Qadar (Malam Qadar). Mereka mencoba membandingkan kemuliaan kedua malam tersebut. Namun yang perlu kami tegaskan terlebih dahulu di sini adalah perlunya mengetahui definisi Malam Maulid.

Malam Maulid Nabi adalah suatu malam terjadinya kelahiran Nabi Muhammad saw, dalam pengertian yang sebenarnya, yang terjadi ratusan tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 571 masehi, sebelum terjadinya Malam Qadar pada tahun 610 masehi. Jadi yang dimaksud dengan Malam Maulid Nabi bukanlah berarti “Malam Ulang Tahun Kelahiran Nabi saw” yang dirayakan sekali dalam setiap tahunnya. Kajian yang sebenarnya dari persoalan ini bukanlah dipandang dari sudut “banyaknya keutamaan dan faedahnya”, dan sekali-kali tidak menyangkut pertentangannya dengan prinsip Akidah.

Pada dasarnya kami meyakini adanya keutamaan didalam Malam Maulid Nabi dan Lailatul Qadar. Peristiwa Maulid Nabi (kelahiran Nabi saw) telah berlalu dan tidak akan berulang kembali. Sedangkan Lailatul Qadar tetap terwujud dan selalu hadir secara berulang-ulang sekali dalam setiap tahunnya. Oleh karena itu, Lailatul Qadar adalah malam yang paling utama dari sekalian malam yang lain, termasuk Malam Maulid Nabi itu sendiri.

Allah swt berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadar,[97] : 1-3)

Persoalan ini sangat ramai dibicarakan para ulama dan para pakar, termasuk dari kalangan para tokoh ulama salaf. Ibnu Taimiyah menitikberatkan pembahasannya pada perbandingan antara keutamaan  Lailatul Qadar dan malam Isra’ Mi’raj secara mendalam dan teliti, yang hal ini belum pernah dilakukan oleh para ulama jaman dahulu, baik di kalangan ulama salaf maupun ulama pada abad pertama hijriah, terutama oleh para sahabat, dan terlebih lagi oleh Rasulullah saw sendiri.

Orang-orang pernah bertanya kepada Ibnu Taimiyah : “ Sebagian ulama mengatakan bahwa Malam Isra’ Mi’raj lebih utama daripada Lailatul Qadar. Sementara sebagian yang lain mengatakan yang sebaliknya. Mana di antara dua pernyataan yang benar?”.

Jawaban Ibnu Taimiyah : “Alhamdulillah. Mengenai orang yang mengatakan bahwa Malam Isra’ Mi’raj lebih utama daripada Lailatul Qadar, dengan disertai suatu pemahaman agar malam yang lebih utama tersebut dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk beribadah, melakukan Qiyamul lail,  memperbanyak doa dan amal shaleh lainnya, maka pemahaman semacam itu adalah salah, batil, tidak benar sama sekali dan belum pernah diucapkan oleh seorang muslim pun, bahkan merupakan pemahaman yang dapat merusak ajaran Islam itu sendiri. Akan tetapi jika yang  mereka maksudkan dengan Malam Isra’ Mi’raj  adalah suatu malam di mana pada saat itu (tanggal 27 Rajab tahun kedua sebelum hijrah) Rasulullah saw di-Isra’-Mi’raj-kan, tanpa di sertai embel-embel perintah secara khusus agar mempergunakan malam tersebut untuk melakukan ibadah Qiyamul lail dan ibadah lainnya, maka pemahaman seperti inilah yang benar. (Lihat bagian pendahuluan kitab Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim). 


_________________________________________________




*)  Sumber : Diambil dari salah satu bagian dari kitab :
Judul Asli
: مفـاهـيم يجب أن تـصحح
Penulis
: Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
Alih Bahasa
: Achmad Suchaimi
Judul Terjemahan
: Pemahaman Yang Perlu Diluruskan (PYPD)





Posting Komentar