Google+ Badge

Sabtu, 29 Juni 2013

PYPD - 29. Perantara Syirik dan Perantara Agung



Oleh : Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki


Perantara syirik (Wasithah Syirkiyyah)

Sebagian besar orang salah dalam memahami “Perantara Kesyirikan”. Mereka melontarkan hukum dan anggapan secara serampangan tanpa dipikirkan secara mendalam. Mereka beranggapan bahwa setiap Wasithah (medium, perantara) merupakan salah satu bentuk perbuatan syirik.Dan orang yang mempergunakan Wasithah atau perantara dengan berbagai bentuk dan caranya dalam setiap aktifitas ibadah, doa dan lain-lainnya, berarti ia musyrik dan keadaannya sama seperti orang-orang musyrik yang berkata :

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Kami tidak menyembah berhala-berhala melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” (QS Az-Zumar,[39]: 3).

Pandangan dan anggapam seperti di atas perlu ditolak secara tegas. Apalagi ayat 3 QS Az-Zumar yang mereka jadikan argumentasi adalah bukan pada tempatnya. Karena ayat tersebut secara tegas menjelaskan pengingkaran terhadap prilaku kaum musyrikin yang menjadikan berhala dan patung sebagai “tuhan-tuhan selain Allah swt”. Di samping bahwa ayat tersebut mengingkari terhadap praktek-praktek kesyirikan yang mereka lakukan dengan suatu keyakinan dan persangkaan bahwa penyembahan terhadap patung dan berhala tersebut merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah swt dengan sedekat-dekatnya. Jadi kekufuran dan kesyirikan mereka terletak pada dua hal : Pertama,  penyembahan terhadap patung dan berhala.  Kedua, keyakinan mereka bahwa patung dan berhala tersebut dianggap sebagai tuhan-tuhan selain Allah swt.

Perlu kami tegaskan, QS Az-Zumar ayat 3 di atas membuat kesaksian bahwa kaum musyrikin tidak bersungguh-sungguh dalam berargumentasi mengenai alasan mereka menyembah patung dan berhala. Sekiranya alasan mereka itu benar, jujur dan dapat dipercaya, tentu mereka dengan jantan akan mengatakan, bahwa Allah swt adalah Dzat Yang Lebih Mulia dan Luhur daripada patung dan berhala mereka. Konsekwensinya, mereka tidak akan menyembah tuhan-tuhan selain Allah swt. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian.

Allah swt melarang kaum muslimin untuk mencela patung dan berhala sesembahan kaum musyrikin didalam firman-Nya :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik perkerjaan mereka. Kemudian kepada tuhan merekalah kembalinya mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS Al-An’am,[6] : 108)

Abdurrazzaq,  Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Abu al-Syaikh meriwayatkan hadis dari Qatadah ra, katanya : “Konon kaum muslimin memaki berhala sesembahan kaum musyrikin, lalu mereka balik memaki Allah sebagai sesembahan kaum muslimin, sehingga Allah swt menurunkan ayat 108 surat Al-An’am di atas”.

Demikianlah Asbabun Nuzul ayat di atas. Ayat tersebut secara tegas menjelaskan larangan terhadap kaum muslimin untuk mencaci dan melecehkan kekurangan dan ketidaksempurnaan patung-berhala yang disembah kaum musyrikin. Karena dengan cacian dan pelecehan tersebut, kaum musyrikin menjadi marah, lalu mereka balik mencaci dan melecehkan Allah swt yang disembah kaum muslimin.

Sekiranya pernyataan kaum musyrikin yang menganggap patung dan berhala sebagai sarana atau wasithah untuk mendekatkan diri kepada Allah tersebut benar dan jujur, tentu mereka tidak akan berani mencaci maki dan melecehkan Allah swt sebagai bentuk balasan terhadap kaum muslimin yang mencaci dan melecehkan patung-berhala mereka. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Allah swt didalam hati mereka lebih sedikit daripada patung-berhala mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Pencipta langit dan bumi adalah Allah, sebagaimana yang dijelaskan didalam surat Luqman [31] : 25 :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’. Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’. Katakanlah : ‘Segala puji bagi Allah’; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS Luqman,[31] : 25)
  
 Seandainya jawaban mereka itu jujur (Bandingkan dengan ayat di atas) dan mereka berkeyakinan bahwa Allah lah satu-satunya Pencipta alam semesta, sementara patung-berhala mereka bukanlah pencipta alam disebabkan ketidakmampuannya, tentu mereka akan menyembah Allah swt dan bukan pada patung-berhala mereka. Atau, paling tidak, mereka menunjukkan sikap hormat kepada Allah swt di atas penghormatannya kepada patung-berhala mereka. Namun pada kenyataannya, mereka tidak berbuat demikian. Apakah sikap mereka tersebut dapat dikatakan konsisten dan sesuai dengan kenyataan di lapangan, sementara mereka masih suka mencaci dan melecehkan Allah swt ? Sejak semula sikap mereka memang tidak pernah konsisten dan tidak dapat dipegangi.

Ayat Al Qur’an yang ada di hadapan kita tidak semata-mata menunjukkan bahwa Allah swt lebih sedikit di hati mereka dibandingkan dengan patung dan berhala mereka. Bahkan ayat-ayat tersebut menjelaskan beberapa gambaran perumpamaan, di antaranya :

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
 Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami". Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, maka sajian itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu.” (QS Al-An’am,[6] : 136)
Oleh karenanya, sekiranya Allah swt tidak lebih sedikit di hati mereka daripada berhala mereka, tentu mereka tidak lebih condong kepada berhala mereka daripada kepada Allah.

سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Amat buruklah ketetapan mereka itu.

Dari sudut pandang ini, Abu Sufyan bin Harb, sebelum ia masuk Islam, pernah mengatakan di dalam salah satu pertempuran melawan tentara Islam, “Kalahkanlah Allah, wahai Hubal !”, seraya memanggil berhala kaum Quraisy yang bernama Hubal, agar ia mengalahkan dan menundukkan Allah swt. Ini merupakan gambaran sikap kaum musyrikin terhadap patung-berhala mereka dan sikap terhadap Allah swt.

Persoalan ini perlu direnungkan dan diketahui secara benar, karena ternyata masih banyak orang yang kurang memahami secara benar. Mereka hanya memahaminya secara sempit. Apakah Anda tidak tahu, sewaktu Allah swt memerintahkan kaum muslimin agar menghadapkan wajahnya ke Ka’bah dalam setiap shalatnya, lalu mereka menghadapkan dan mengarahkan wajah dalam setiap peribadatannya itu ke sana dan menjadikannya sebagai Kiblat. Hal ini bukan berarti bahwa mereka menyembah Ka’bah.

Mencium Hajar Aswad merupakan salah satu bentuk peribadatan kepada Allah swt, sesuai dengan tuntutan dan sunnah Rasulullah saw. Jika kaum msulimin mencium Hajar Aswad dan menghadap ke arah Ka’bah ini mereka niati menyembah kepada kedua benda tersebut, tentulah mereka disebut musyrik, sama seperti kemusyrikan yang dilakukan oleh kaum kafir quraisy penyembah berhala.

Ka’bah dan Hajar Aswad dalam persoalan ubudiyah di sini berkedudukan sebagai Wasithah atau perantara seseorang dalam melakukan peribadatan kepada Allah swt. Wasithah merupakan keniscayaan dan bukan suatu bentuk kemusyrikan. Setiap orang islam yang melakukan ibadah kepada Allah swt dengan melalui wasithah atau perantara tidak otomatis menjadi musyrik. Jika mereka dikatakan musyrik, maka seluruh umat manusia, tidak ketinggalan seluruh kaum muslimin, adalah musyrik semua, karena semua problem kehidupan manusia tidak lepas dari adanya wasithah atau perantara. Misalnya, Rasulullah saw menerima wahyu adalah melalui wasithah atau perantara malaikat Jibril. Dengan kata lain, malaikat Jibril adalah berkedudukan sebagai “perantara” bagi Rasulullah saw dalam menerima wahyu.

Rasulullah saw juga sebagai “Perantara agung” atau Wasithah ’uzhma bagi para sahabatnya. Mereka memohon pertolongan kepada beliau sewaktu mengalami kesulitan. Mereka mengadukan problem hidupnya kepada beliau, bertawassul kepada Allah melalui perantaraan beliau, dan memohon agar beliau mendoakan kebaikan untuk mereka. Beliau saw sendiri setelah mendengar pengaduan mereka tidak pernah mengatakan, “Kalian musyrik dan kafir, karena  kalian  seharusnya tidak diperbolehkan mengadukan problem hidup kalian kepadaku dan tidak boleh  memohon bantuan doa dariku. Sebaliknya, kalian harus berdoa langsung kepada Allah, karena Dia lebih dekat kepada kalian daripada aku !”.  Sekali lagi, beliau saw tidak pernah mengatakan seperti itu. Bahkan beliau mendiamkan dan tidak pernah melarang perilaku sahabat tersebut. Malah beliau mengabulkan dan mendoakan sesuai dengan permintaan mereka, disertai pemahaman bahwa mereka sudah mengetahui yang sebenarnya, bahwa yang mampu memberikan dan menolak sesuatu, serta yang mampu menolak dan membentangkan pemberian rizki, pada hakekatnya, adalah Allah swt, bukan selain-Nya.

Rasulullah saw bersabda :

إِنَّـمَا اَنَـا قَـاسِمٌ وَ اللَّـهُ مُـعْـطٍ
Sesungguhnya aku hanyalah yang membagi-bagikan. Sedangkan Allah-lah yang memberi”.

Atas dasar itu jelaslah bahwa boleh mensifati siapa saja, apapun kedudukannya : baik itu seorang Nabi, auliya-illah, kaum muslimin pada umumnya, aupun yang lainnya. Misalnya dengan mengatakan bahwa dia adalah orang yang mampu menghilangkan kesusahan hidup, mampu memecahkan problem hidupnya, dan mampu mncukupi kebutuhan hidupnya. Apalagi sifat tersebut diberikan kepada Rasulullah saw, seorang Nabi yang teragung dan seorang makhluk yang paling utama, tentu saja hal itu secara mutlak diperbolehkan.  Rasulullah saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang membantu melapangkan kesusahan orang mukmin dalam menghadapi persoalan hidupnya di dunia, maka …”.

Beliau bersabda dalam sebuahhadis shahih: “Allah akan menolong seorang hamba, selama ia mau memberikan pertolongan kepada temannya”.

Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menolong orang yang membutuhkan pertolongan, maka Allah akan mencatatkan 73 kebaikan untuknya”. (HR Abu Ya’la, Al-Bazzar, al-Baihaqi).

Dari beberapa hadis Nabi di atas diperoleh suatu pemahaman, bahwa seorang muslim dapat berperan sebagai “perantara” atau wasitah  dalam rangka membantu melapangkan kesusahan, menolong dan memberi pakaian dan lain-lain, dengan pemahaan bahwa yang  secara hakiki dapat melapangkan kesusahan, memenuhi kebutuhan hidup, memberi pertolongan dan menolak bahaya adalah Allah swt. Dan hal ini menunjukkan tentang boleh-nya menisbatkan suatu “perbuatan” kepada seseorang.

Banyak sekali hadis nabawi yang menjelaskan bahwa Allah swt menolak dan mencabut  adzab siksaan dari muka bumi ini disebabkan oleh adanya orang-orang yang mau beristighfar dan memakmurkan masjid-masjid. Dan berkat mereka lah  Allah swt memberi rizki dan pertolongan-Nya, serta mengurungkan siksaan-Nya kepada penduduk bumi.

At-Thabary, dalam sebuah kitabnya yang berjudul “Al-Kabir”, dan al-Baihaqy, dalam kitab “Sunan”-nya, menuturkan sebuah hadis dari Mani’al-Dailamy, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sekiranya tidak ada: 1) orang yang shalat,  2) bayi yang menyusu kepada ibunya, dan 3) hewan-hewan yang masih bisa memakan rerumputan, tentulah Allah swt sudah menimpakan azab kepada kalian. Dan berkat mereka pula, Allah benar-benar ridha dan puas kepada kalian (alias Dia urung menimpakan azab-Nya)”.

Imam al-Bukhary meriwayatkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kalian mendapatkan pertolongan dan rizki dari Allah adalah disebabkan oleh adanya orang-orang lemah di antara kalian”.

At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis  dari Anas bin Malik, yang dinilai shahih oleh al-Hakim, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Semoga engkau diberi rizki disebabkan dia”.

Hadis dari Ibnu Umar ra menjelaskan, bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Sesungguhnya Allah swt memiliki makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya untuk memenuhi hajat kebutuhan manusia, Orang-orang datang meminta bantuan kepada makhluk tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Mereka  itulah yang mengamankan dan menyelamatkan manusia dari siksa Allah swt” (HR At-Thabrany dalam kitabnya  Al-Kabir, dan Abu Na’im).

Hadis dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt tentu akan berlaku baik kepada manusia disebabkan oleh perlakuan baik seorang muslim yang shalih kepada anaknya, cucunya, anggota keluarganya dan tetangga sekitarnya. Mereka senantiasa dalam perlindungan Allah swt selama seorang muslim yang shalih tersebut tinggal di lingkungan mereka”. (HR Ibnu Jarir dalam kitab Tafsir-nya, juz 2; hal. 341. Dan ditakhrij oleh An-Nasai).

Hadis dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw bersabda , “Sesungguhnya Allah swt benar-benar akan menyingkirkan bala cobaan dari seratus anggota keluar sekitarnya disebabkan oleh adanya seorang muslim yang shalih”. Kemudian Ibnu Umar ra membacakan ayat 251 surat Al-Baqarah, yang artinya: “Seandainya Allah swt tidak menolak keganasan sebagian orang kepada sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini” (HR At-Thabrany).

Hadis dari Ubadah bin Shamit ra, bahwa Rasulullah saw bersabda,”Wali Abdal pada umatku berjumlah tiga puluh orang. Berkat mereka lah kalian diberi rizki, dituruni hujan dan diberi pertolongan”. Qatadah ra mengatakan, “Saya berharap kiranya kebaikan datang dari mereka” (HR At-Thabrani).

Empat hadis terakhir di atas dituturkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir didalam kitab Tafsir-nya sewaktu ia menafsirkan   QS Al-Baqarah,[2] : 251

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ
  “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini”

Hadis-hadis tersebut layak dijadikan sebagai argumentasi, dan dari keseluruhan itu menjadikan khabar tersebut bernilai shahih.

Hadis dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bumi ini tidak terlepas dari empat puluh orang setara dengan Khalilurrahman (Wali Allah). Berkat keberadaan mereka, kalian diberi minum (diturunkan hujan) dan diberi pertolongan. Tidak mati seorang diantara mereka melainkan Allah swt menggantikan posisinya dengan yang lain”. (HR At-Thabrany dalam kitab Al-Ausath, dengan sanad Hasan. Juga tertulis dalam kitab Majma’ al-Zawaid, juz 20; hal. 62).



Al-Wasithah Al-Uzhma (Perantara Yang Agung)

Pada hari makhsyar yang merupakan hari Tauhid, hari Iman dan hari diperlihatkannya ‘Arasy akan muncul seorang Perantara Yang Agung, yakni Nabi Muhammad saw. Beliau adalah Pemilik Panji yang terikat sangat kuat, Pemilik “Maqam Mahmud” (Kedudukan yang terpuji), Pemilik telaga Kautsar, sebagaimana yang disebutkan didalam Al-Qur’an, seorang Pemberi Syafaat yang tidak ditolak permintaannya dan jaminan-jaminannya tidak sia-sia bagi orang yang dijanjikan. Pada hari itu, semua manusia datang menemui beliau saw seraya meminta syafaatnya. Beliau segera bersujud menghadap kehadirat Allah swt seraya terus memintakan syafaat untuk mereka, sampai Dia mengabulkan permintaan beliau. Allah swt berfirman kepada beliau, “Hai Muhammad ! Angkatlah kepalamu. Mintalah syafaat, tentu engkau akan diberi. Dan mintalah apa saja, tentu semuanya akan Aku kabulkan”.





Selasa, 25 Juni 2013

MKTS - 17. Sumur Zamzam




Lorong menuju sumur zamzam di masa Raja Fahd



Sejarah Penemuan Sumur Zamzam. Mas'a yang menghubungkan antara Bukit Shofa dan Marwa merupakan saksi sejarah perjalanan Siti Hajar dalam usahanya mencari air untuk mempertahankan hidup, yang kemudian diabadikan oleh Alloh sebagai salah satu dari rangkaian manasik haji.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, Nabi Ibrahim datang ke Makkah bersama Hajar (isteri) dan Ismail (anak) yang masih menyusu. Nabi Ibrahim, lantas meninggalkan anak-isterinya di dekat Baitulloh di lembah yang sepi dan tak ada seorang pun di sana. Tepatnya ditinggal di bawah pohon besar yang posisinya kira-kira di atas lokasi sumur zamzam, dengan makanan dan minuman secukupnya.
Ibrahim terus pergi naik bukit dan diikuti Hajar sambil memanggilnya berulang-ulang:
"Wahai Ibrahim! Kemanakah engkau...! Apakah engkau akan meninggalkan kami berdua di tempat yang sepi ini!". Tetapi Nabi Ibrahim terus naik dan tidak menggubrisnya. Ketika Siti Hajar bertanya : "Apakah ini atas perintah Alloh!", baru beliau mengiyakan. Siti Hajar pun menerima kenyataan ini dengan penuh tawakkal, "Baiklah kalau begitu, kami tidak perlu khawatir lagi".
Ibrahim terus naik ke puncak bukit Shofa, lalu berdoa sambil mengarahkan pandangannya ke arah reruntuhan Ka'bah yang saat itu terkubur tanah :
"Ya Tuhan kami, sungguh aku tempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitulloh) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur."(QS Ibrahim,[14] : 37)
Ketika bekal makanan menipis dan persediaan air habis, Siti Hajar naik ke puncak bukit Shafa, lalu  memandang ke daerah sekitar dengan tujuan mencari orang yang bisa menolongnya, kemudian turun dari Shafa. Ketika sampai di lembah, ia mengangkat ujung roknya sambil berlari kecil (berjalan cepat), terus naik ke puncak bukit Marwa. Sesampainya di sana tidak dilihatnya seorang pun, lantas turun lagi dan naik ke bukit Shofa dengan tujuan yang sama. Begitu seterusnya sampai ia melakukannya sebanyak 7 kali bolak-balik.
 Sewaktu berada di Marwa pada perjalanannya yang terakhir, ia mendengar suara. "Diamlah!", kata Hajar. Setelah ditelusuri dari mana datangnya suara itu, ternyata berasal dari suara malaikat Jibril yang mengepakkan sayapnya menggali tanah pasir di dekat Nabi Ismail. Tak lama kemudian, memancarlah air yang cukup deras, dan Siti Hajar pun menghimpun air itu dengan tangannya sambil mengatakan : "zam...zam... , zam.... zam...." (Air yang melimpah).  

Sumur Zamzam jaman kuno
 Air yang keluar dari sumber yang di kemudian hari terkenal dengan sebutan "Sumur Zamzam" inilah yang sehari-hari diminum oleh Siti Hajar, Nabi Ismail beserta anak keturunannya, penduduk Makkah dan para peziarah haji sampai sekarang. 
 Sumur Zamzam yang sampai saat ini berusia 5000 tahun mengalami dua kali penggalian. Penggalian pertama dilakukan oleh malaikat Jibril dan penggalian kedua oleh Abdul Mutholib, Kakek Nabi. 
Tidak lama setelah ditemukannya Sumur Zamzam sebagai karunia Alloh kepada Siti Hajar dan Ismail, rombongan suku  Jurhum dari Yaman datang dan menetap di sekitar lokasi sumur (Makkah). Mereka bertahun-tahun hidup bertetangga dengan Siti Hajar dan Ismail. Bahkan mereka menjadi keluarga setelah Ismail dinikahkan dengan anak mereka.




Jurhum berabad-abad menjadi suku arab yang kuat, terhormat dan disegani. Sewaktu mereka sudah berani menghina dan mencemari Baitulloh dan Tanah Haram dengan kezhaliman, aqidah syirik dan kejahatan, menyebabkan sumber air zamzam tiba-tiba menjadi kering. Sumur pun lalu ditutup dan dikubur selama beberapa abad, bahkan dilupakan dan tidak diketahui lagi lokasinya. Sumur zamzam hanya tinggal kenangan bangsa arab.
  
Lorong menju ke sumur dijaman Raja Fahd
Suku Jurhum terusir dari Makkah setelah dikalahkan oleh suku Khuza'ah. Suku ini berkuasa di Makkah beberapa abad sampai kota ini dikuasai oleh suku Quraisy. Sewaktu suku Quraisy dipimpin oleh kakek Rosululloh yang bernama Abdul Mutholib, pada suatu malam beliau bermimpi didatangi seseorang dan menyuruhnya menggali sumur zamzam di tempat yang ditentukan. Setelah tempat tersebut digali bersama anak-anaknya, sumur zamzam akhirnya berhasil ditemukan kembali. Sejak saat itu beliau dan anak keturunannyalah yang berhak menguasai dan membagi-bagikan airnya kepada penduduk Makkah dan para peziarah haji. 


 

Identifikasi Sumur Zamzam Dan Sumber Air.
 

Posisi dan kedalam Sumur Zamzam
Posisi Sumur Zamzam berjarak + 21 meter sebelah timur dari rukun Hajar Aswad. Kondisi sumurnya sekarang ini berada pada kedalaman 1,56 meter di bawah lantai thwaf (sath-hul mathof) yang ditandai dengan bulatan pada lantai yang didalamnya tertulis "Bi'ru Zamzam". Dari bibir sumur sampai ke permukaan air berjarak 4 meter. Kedalaman sumur, mulai dari bibir sumur sampai ke dasarnya sedalam 30 meter. Luas diameter sumur tidak sama, yakni antara 1,5 meter sampai 2,65 meter, disebabkan posisi sumur yang tidak lurus.
 
Sumber air Zamzam mengalir deras dari celah-celah / lobang pada kedalaman 13 meter dari bibir sumur. Celah-celah / lobang sumber air tersebut terbagi kedalam 3 celah pokok.
1). Celah yang mengarah ke Hajar Aswad sepanjang 45 cm dan tinggi 30 cm, merupakan pemasok air terbesar untuk sumur zamzam.
2). Celah agak besar sepanjang 70 cm dan tinggi 30 cm bercabang dua yang mengarah ke pengeras suara, dekat maqom Ibrahim.
3). Celah berukuran agar kecil sebanyak 21 celah yang mengarah ke  jabal Qubaisy, Shafa dan Marwa. Sedang lokasi penyedotan dan penyulingan air terletak pada kedalaman 18 meter, pada lobang sumur berdiameter 2,65 meter.
 
Celah-celah sumber air Zamzam dari arah Hajar Aswad
 Sumur Zamzam yang menjadi sumur tertua dan terbaik airnya di dunia ini mengalir terus sampai hari kiamat dan tidak pernah mengalami kekeringan sumber, meskipun telah diambil, disedot dan dipompa setiap hari. Saat ini air Zamzam setiap hari dipompa dengan mesin canggih yang menghasilkan 11 sampai 18 liter air per detik. Jadi dalam waktu satu jam, mesin ini  mampu menyedot air Zamzam sebanyak 39.000 liter (11 liter x 60 detik x 60 menit), dan dalam waktu sehari non stop dihasilkan air sebanyak 936.000 liter  (24 jam x 39.000 liter). 
Mesin Pompa Sumur  Zamzam
 

Keistimewaan dan Keutamaan Air Zamzam :
1). Air Zamzam bersumber dari mata air surga. Berdasarkan atsar dari Ibnu Abbas, dan penjelasan para sahabat dan ulama salaf.
2). Air Zamzam merupakan rizki dan karunia istimewa Alloh bagi Siti Hajar dan Ismail, sebagai wujud pengkabulan doa Nabi Ibrahim yang tersebut dalam QS Ibrahim,[14] : 37.
3). Air Zamzam merupakan salah satu tanda kekuasaan Alloh di Tanah Suci, selain Hajar Aswad, Maqom Ibrahim dan Hijir Ismail. (QS Ali Imran,[3] : 96-97).
4). Air Zamzam merupakan nikmat dan manfaat terbesar yang disaksikan para jamaah haji (QS Al-Hajj : 27-28)
5). Air Zamzam memancar keluar dari sumur yang digali atau dikeruk dengan kepakan sayap malaikat Jibril.
6).  Air Zamzam memancar di lembah yang paling suci di dunia
7). Air Zamzam digunakan untuk membasuh hati Rosululloh sewaktu kecil dan ketika akan Isro'-Mi'roj.
8). Air Zamzam penuh dengan berkah. Keberkahannya bertambah setelah Rosululloh meludahinya.
9). Air Zamzam merupakan minuman sekaligus makanan yang mengenyangkan dan menguatkan tubuh. Hajar dan Ismail hanya minum zamzam saat kehabisan bekal makanan. Nabi pernah berhari-hari tidak makan kecuali dengan minum zamzam. Abu Dzar Al-Ghiffari selama sebulan tidak makan kecuali minum air zamzam pada awal keislamannya. Nabi  berkomentar, "Sungguh air zamzam penuh berkah dan  makanan yang mengenyangkan". (HR Muslim, dari Abu Dzar al-Ghiffari).
10). Air Zamzam mengalir terus dan tidak pernah kering sampai hari kiamat.
11). Air zamzam merupakan obat yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit. (HR Muslim, dari Abu Dzar, dan hadis-hadis lain)
12). Air zamzam itu tergantung pada niat meminumnya. Jika diminum dengan niat, doa dan tujuan memperoleh kebaikan atau terkabulnya hajat, maka Alloh akan mengabulkannya.
13). Air Zamzam merupakan air yang terbaik kandungannya dan tersuci di muka bumi.

Air Zamazam dlm kemasan 10 ltr siap dibawa pulang ke tanah air

Kandungan mineral
Tidak seperti air mineral yang umum dijumpai, air Zamzam in memang unik mengandung elemen-elemen alamiah sebesar 2000 mg perliter. Biasanya air mineral alamiah (hard carbonated water) tidak akan lebih dari 260 mg per liter. Elemen-elemen kimiawi yang terkandng dalam air Zamzam dapat dikelompokkan menjadi :
1) Positive ions seperti misal sodium (250 mg per litre), calcium (200 mg per litre), potassium (20 mg per litre), dan magnesium (50 mg per litre).
2) Negative ions misalnya sulphur (372 mg per litre), bicarbonates (366 mg per litre), nitrat (273 mg per litre), phosphat (0.25 mg per litre) and ammonia (6 mg per litre).


 
Molekul Air Zamzam
Kandungan-kandungan elemen-elemen kimiawi inilah yang menjadikan rasa dari air Zamzam sangat khas dan dipercaya dapat memberikan khasiat khusus. Air yang sudah siap saji yang bertebaran disekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah merupakan air yang sudah diproses sehingga sangat aman dan segar diminum, ada yang sudah didinginkan dan ada yang sejuk (hangat). Namun konon prosesnya higienisasi ini tidak menggunakan proses kimiawi untuk menghindari perubahan rasa dan kandungan air ini



Adab Sopan Santun Meminum Zamzam
1). Mengambilnya dengan tanan kanan
2). Minum sambil menghadap ke arah kiblat
3). Didahului dengan membaca Basmalah. (Bismil-laahirrohmaanirrohiim)
4). Diminum seteguk, lalu berhenti sebentar sambil bernafas tiga kali. Minum lagi seteguk, berhenti dan bernafas 3 kali. begitu seterusnya, sampai munum sepuas-puasnya.
5). Selesai minum membaca Hamdalah. Lalu berdoa apa saja, dengan bahasa apa saja sesuai hajat.

Minum air Zamzam sambil menghadap ke kiblat


Berikut ini doa yang diajarkan Ibnu Abbas : Ibnu Abbas melihat seseorang yang hendak meminum air zamzam, lalu bertanya: “Tahukah kamu cara meminumnya?. Ambillah air zamzam satu timba, lalu menghadaplah ke kiblat dan ucapkan Basmalah, bernafaslah 3 kali setiap satu tegukan hingga engkau puas. Setelah selesai, berdoalah :
اَللَّهُمَّ   اِنِّيْ اَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا  وَرِزْقًا  وَاسِعًا  وَشِفَاءً   مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَسَقَمٍ بِرَحْمَتِكَ  يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Tempat minum zamzam diluar Masjid Nabawi
Ya Alloh, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang luas, dan obat kesembuhan dari berbagai macam penyakit ringan dan berat. Berkat rahmat-Mu, Ya Alloh.